Terungkap: Mengapa bintang Real Madrid Arda Guler memutuskan mencuri gol Kylian Mbappe saat menang atas RB Leipzig di Liga Champions

Terungkap: Mengapa bintang Real Madrid Arda Guler memutuskan mencuri gol Kylian Mbappe saat menang atas RB Leipzig di Liga Champions

Pemain muda Real Madrid, Arda Guler, mengungkap alasan di balik keputusannya merebut gol dari rekan setimnya, Kylian Mbappe, dalam kiprah terbaru klub tersebut di Eropa. Pemain timnas Turki itu tampak ceria setelah Real Madrid tampil dominan dan mengalahkan RB Leipzig dengan mudah di Bernabeu.

Pemain muda Real Madrid, Arda Guler, mengungkap alasan di balik keputusannya merebut gol dari rekan setimnya, Kylian Mbappe, dalam kiprah terbaru klub tersebut di Eropa. Pemain timnas Turki itu tampak ceria setelah Real Madrid tampil dominan dan mengalahkan RB Leipzig dengan mudah di Bernabeu.

Real Madrid meraih kemenangan telak 4-1 atas RB Leipzig pada pertandingan ketiga Liga Champions. Raksasa Spanyol itu tampil efektif, dengan Guler memainkan peran utama di lini tengah. Pemain timnas Turki tersebut terus-menerus menghadirkan ancaman dan melengkapi penampilan individunya yang gemilang dengan mencetak gol kedua timnya malam itu.

Namun, gol pemain berusia 21 tahun itu mengundang tanda tanya. Mbappe menyundul bola melambung ke arah gawang, tetapi Guler dengan cerdik menyentuhnya tepat di depan mulut gawang agar gol tersebut tercatat atas namanya.

Gol yang direbut tepat di depan garis gawang itu tak menghambat momentum Madrid. Mbappe kemudian mencetak gol ketiga sebelum Tidiam Gomis memperkecil ketertinggalan tim Jerman tersebut. Pemain rekrutan termahal Yan Diomande lalu melengkapi kemenangan telak itu untuk memastikan kemenangan meyakinkan di kompetisi Eropa di Bernabeu.

Berbicara kepadaReal Madrid TVseusai pertandingan, gelandang itu langsung berseloroh soal keputusannya merebut gol dari rekan setimnya yang tersohor. Guler mengatakan bahwa ketajaman bintang asal Prancis tersebut membuatnya tak perlu khawatir Mbappe gagal mencetak gol.

“Saya merebut gol Mbappe, tetapi itu karena saya tahu dia akan mencetak gol lagi. Jadi, tidak masalah,” canda Guler seusai pertandingan. Perkiraannya yang disampaikan sambil bercanda itu terbukti tepat, karena bintang asal Prancis tersebut memang kemudian mencetak gol ketiga Real Madrid dalam laga itu.

Di luar candaan tersebut, pemain berusia 19 tahun itu ingin menyoroti kerja keras seluruh skuad di setiap area lapangan. “Kami sangat senang karena menurut saya kami bermain luar biasa, baik saat menguasai bola maupun tanpa bola. Saya rasa kami tampil sangat baik dan kami sangat senang,” tambahnya.

Kemenangan meyakinkan itu kembali menunjukkan tingginya standar yang dituntut di ibu kota Spanyol. Bagi Guler, mempertahankan ketajaman seperti itu merupakan bagian dari tuntutan saat mengenakan seragam putih Real Madrid yang tersohor.

“Itulah yang harus kami lakukan. Kami Real Madrid dan kami harus memenangi setiap pertandingan,” tegas sang gelandang. Ia juga menyebut dukungan penonton di kandang sebagai pendorong penampilan dominan mereka: “Itu faktor penting karena saat bermain di kandang, di hadapan suporter kami, kami berusaha memberikan segalanya untuk mereka.”

Seiring meningkatnya momentum tim, Guler melontarkan peringatan menjelang laga besar di kompetisi domestik melawan Barcelona pada Minggu. “Ini pertandingan besar, laga kelas atas, dan kami akan memberikan segalanya untuk menang. Kami siap,” pungkasnya.

Setelah menuntaskan laga di kompetisi Eropa dengan kemenangan, Real Madrid akan langsung mengalihkan perhatian untuk menjamu rival terbesarnya. El Clasico pada Minggu memiliki dampak besar terhadap persaingan gelar La Liga dan menuntut fokus penuh dari pasukan Mourinho.

Madrid akan berusaha memanfaatkan ketajamannya saat ini untuk menaklukkan Barcelona. Dengan Guler yang tengah tampil apik, Mbappe kembali mencetak gol, dan Diomande terus menunjukkan ketajamannya, Madrid tampak siap menghadapi duel besar akhir pekan ini.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.