KOMPAS.com - Pelatih Timnas Putri U16 Malaysia, Fairuz Montana bin Zaenan Abidin, mengaku kerap berkomunikasi dengan juru taktik Tim Putri Indonesia, Satoru Mochizuki, soal pengembangan sepak bola putri.
Timnas Putri U16 Malaysiatakluk dari Thailand 1-5 dalam babak semifinalSrikandi Merdeka Cup2026 yang digelar di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah pada Jumat (21/8/2026).
Timnas U16 Thailand mampu mengemas lima gol yang didapat dari gol bunuh diri Sofia Jeanne Lacasse (9'), Kawinta Kikuntod (51'), Kanokporn Wanthong (65' dan 75'), dan Zuzana Kordem (86').
Baca juga:Hasil HT Semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026: Indonesia Vs Yordania 3-0
KeberhasilanTimnas Putri U16 Thailandmenang atas Malaysia membuat mereka melaju ke babak final dan akan berhadapan dengan Timnas Putri U16 Indonesia.
Selepas laga, pelatih Timnas Putri U16 Malaysia, Fairuz Montana bin Zaenal Abidin sempat bercerita mengenai kompetisi untuk sepak bola putri.
Dalam konferensi pers, Fairuz Montana mengungkap bahwa Malaysia sebenarnya memiliki tingkatan pembinaan lengkap untuk sepak bola putri.
"Oke, di Malaysia kita punya Liga Putri yaitu bawah 15 tahun semua, 16 tahun pun ada," ujar Fairuz.
"Jadi kami memiliki Liga Senior. Untuk liga kalau di sini kita bisa sebut sebagai Liga 1 lah, Liga 1. Kami punya Liga 1 untuk wanita. Jadi untuk Liga 2, Liga 3 kami juga ada."
Baca juga:Hasil Srikandi Merdeka Cup 2026: Thailand Gilas Malaysia 5-1, Ujian Berat Indonesia Jika ke Final
"Untuk pengembangan di bawah ini buat masa ini semua tim klub-klub di Malaysia berjalan dengan baik," tambahnya.
Lebih lanjut, Fairuz mengaku bahwa menangani tim muda untuk sepak bola putri setelah sebelumnya menangani tim senior.
Untuk menangani tim muda, pelatih berusia 43 tahun ini menyebut dirinya belajar dari berbagai macam tempat, salah satunya dari pelatih Timnas Putri Indonesia, Satoru Mochizuki dan juga Timnas Thailand.
Dari komunikasi yang dilakukan dengan para senior, Fairuz mengaku mendapatkan ilmu yang bisa diterapkan untuk menangani Timnas Putri U16 Malaysia.
"Sebelum ini saya menangani tim senior saja, tapi bukan di negara, melainkan di klub saja. Jadi ini pun salah satu tantangan baru untuk saya saya, di mana kita mau menangani tim di bawah umur, terutama di bawah 17 tahun," tuturnya.
Baca juga:Srikandi Merdeka Cup: Yordania Sorot Semangat Juang Tinggi Garuda Pertiwi
"Jadi, saya cukup banyak mendapat pembelajaran dari pemain, manajemen, lalu dari Coach Mochi (Satoru Mochizuki), pelatih Timnas Putri Indonesia yang saya anggap sebagai guru."
"Saya banyak berkomunikasi soal bagaimana pengembangan sepak bola putri dengannya, juga dengan mereka yang ada di Thailand," imbuh Fairuz Montana.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautanhttps://bit.ly/BantuWargaNTT