“Tak tergantikan!” Ander Herrera melontarkan klaim nyeleneh soal Jose Mourinho dan Simpsons terkait pelanggaran aturan Manchester City

“Tak tergantikan!” Ander Herrera melontarkan klaim nyeleneh soal Jose Mourinho dan Simpsons terkait pelanggaran aturan Manchester City

Mantan gelandang Manchester United, Ander Herrera, mengungkapkan rasa frustrasi yang mendalam atas gelar Liga Primer yang menurutnya dirampas akibat pelanggaran finansial Manchester City. Pemain asal Spanyol itu mendesak agar Manchester City dijatuhi sanksi berat yang menjadi preseden setelah klub t

Mantan gelandang Manchester United, Ander Herrera, mengungkapkan rasa frustrasi yang mendalam atas gelar Liga Primer yang menurutnya dirampas akibat pelanggaran finansial Manchester City. Pemain asal Spanyol itu mendesak agar Manchester City dijatuhi sanksi berat yang menjadi preseden setelah klub tersebut baru-baru ini dinyatakan bersalah melanggar peraturan liga.

Herrera mengungkapkan kekecewaannya atas pelanggaran aturan keuangan Manchester City baru-baru ini. Pemain asal Spanyol itu merasa kehilangan kesempatan meraih gelar Liga Primer Inggris selama lima tahun membela United di Old Trafford.

Manchester City baru-baru ini dinyatakan bersalah atas hampir seluruh dari lebih dari 100 dakwaan terkait pelanggaran serius terhadap peraturan keuangan antara 2009 dan 2018. Selama periode itu, Herrera meraih empat trofi bersama United, tetapi gelar liga luput darinya.

Pemain berusia 37 tahun itu mengenang musim 2017-18, ketika United finis kedua di bawah Jose Mourinho, terpaut 19 poin dari rival sekota mereka. Herrera memuji mantan pelatihnya karena telah memprediksi kontroversi tersebut bertahun-tahun sebelumnya. Berbicara dalam podcastMario Suarez, Herrera tak menyembunyikan rasa frustrasinya terhadap situasi tersebut.

“Saya seharusnya punya gelar Liga Primer Inggris,” katanya. “Gambaran situasinya benar-benar berbeda ketika Anda punya gelar Liga Primer Inggris. Itu tahun ketika Mourinho mengatakan, ‘Saya sangat menghargai keberhasilan finis di posisi kedua ini karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik layar.’

“Mou seperti The Simpsons, apa pun yang dia katakan akhirnya terjadi. Dia sudah mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Aturan harus dipatuhi, dan apa yang terjadi saat itu tidak benar. Kami semua menyadarinya. Saya punya teman-teman yang datang ke Manchester dan tidak bisa mendapatkan tiket untuk pergi ke Old Trafford, sementara tiket ke Etihad dibagikan secara gratis. Mereka tidak memiliki basis suporter sebesar itu, tetapi mereka mengeluarkan uang seolah-olah memilikinya.”

Meski marah kepada jajaran petinggi klub, Herrera bersimpati kepada Pep Guardiola dan skuadnya. Ia menyatakan bahwa para pemain dan pelatih saat ini layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya atas pencapaian mereka di lapangan.

“Saya tidak punya kritik terhadap para pemain, begitu juga pelatih [Pep Guardiola],” ujarnya. “Mereka layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya atas apa yang telah mereka capai. Jika saya pemain Manchester City, saya akan marah, saya akan sangat geram kepada orang-orang yang bertanggung jawab karena mereka telah mencoreng dan menimbulkan keraguan atas segala yang dicapai tim selama bertahun-tahun.”

Herrera menambahkan: “Bagi saya, sanksinya harus berat, sesuatu yang menjadi preseden. Ini harus menjadi preseden agar orang berikutnya yang berkata, ‘Saya akan menggelembungkan pendapatan secara ilegal,’ berpikir, ‘Tidak, saya tidak akan melakukannya karena saya akan terdegradasi.’ Kerusakan yang mereka [Man City] timbulkan jelas tidak dapat diperbaiki.”

Dunia sepakbola masih menanti sanksi resmi yang akan dijatuhkan kepada Manchester City. Meski seruan agar gelar-gelar mereka dicabut semakin keras, hukuman pastinya belum ditentukan.

Sementara itu, Herrera melanjutkan karier bermainnya bersama klub yang dibelanya sejak kecil, Real Zaragoza. Setelah sempat membela klub Argentina Boca Juniors, gelandang veteran itu kini membantu Zaragoza bersaing di kasta ketiga sepakbola Spanyol.

Mengawali karier sebagai penulis magang diGOAL Indonesiapadaawal 2021, Yosua kemudian diangkat menjadi jurnalis di tahun yang sama dan hingga kini konsisten menulis dengan fokus utama pada Real Madrid serta jagat La Liga Spanyol.

Lahir dan besar di Salatiga, kecintaan Yosua pada sepakbola berakar pada klub lokal, PSISa Salatiga serta PSIS Semarang. Namun, perjalanan cintanya tidak berhenti di sana. Aksi duo kidal Real Madrid, Raul Gonzalez dan Guti Hernandez, memperkenalkan Yosua pada dunia sepakbola Eropa dan menumbuhkan rasa kagum yang kemudian berkembang menjadi spesialisasi profesional.

Terjun meliput langsung Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia menjadi salah satu pengalaman paling berkesan baginya. Di turnamen itu, Yosua berkesempatan bertemu sekaligus mewawancarai para wonderkid yang kini mulai bersinar di level elite: Marc Guiu, Franco Mastantuono hingga Claudio Echeverri.

Bidang keahlian Yosua di GOAL Indonesia di antaranya:

Mengulas dunia La Liga Spanyol, khususnya Real Madrid

Analisis preview pertandingan dengan pendekatan taktik dan naratif

Editorial sepakbola internasional

Penelusuran pemain muda dan perkembangan talenta global