Mantan penyerang Mesir Mohamed Aboutrika mengkritik pelatih kepala Manchester City Enzo Maresca atas cara ia menempatkan gelandang remaja Ayyoub Bouaddi dalam taktiknya. Pengamat sepakbola itu mempertanyakan keputusan pelatih asal Italia tersebut untuk menempatkan pemain Maroko berusia 19 tahun itu lebih ke depan saat City secara mengejutkan kalah 0-1 di kandang dari Brighton dalam laga Liga Primer Inggris pada Sabtu.
Bouaddi tampak frustrasi di Stadion Etihad pada Sabtu setelah ditarik keluar saat pertandingan baru berjalan 55 menit dalam kekalahan timnya dari Brighton and Hove Albion pada pekan kesembilan. Dalam penampilan kelimanya sebagai starter musim ini di semua kompetisi, pemain timnas Maroko yang telah mencatatkan 10 penampilan itu kesulitan memberi pengaruh sebelum digantikan pada awal babak kedua. Penampilan tersebut langsung memicu pertanyaan tentang cara pemain muda itu dimainkan di Manchester.
Aboutrika, yang dua kali menjuarai Piala Afrika bersama Mesir pada 2006 dan 2008, meyakini pemain remaja itu, yang tumbuh dengan mengidolakan ikon lini tengah Spanyol, Andres Iniesta, tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena dimainkan lebih ke depan, bukan di posisi alaminya sebagai gelandang bertahan.
Berbicara sebagai analis untukbeIN Sports MENA, Aboutrika mengatakan: “Memainkan Ayyoub Bouaddi sebagai gelandang nomor delapan atau nomor 10 sama seperti memainkan Messi sebagai penjaga gawang. Posisinya adalah nomor enam. Mengapa mengubah posisinya?”
Menurut mantan penyerang itu, menempatkan pemain muda tersebut dalam peran gelandang yang lebih menyerang membuatnya tidak bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya dari posisi yang lebih dalam, yakni merebut kembali penguasaan bola, mendistribusikan umpan, dan membawa bola maju. Kualitas-kualitas itu membuat pemain Maroko tersebut mendapat banyak pujian selama Piala Dunia 2026.
Bouaddi pindah ke Stadion Etihad pada musim panas lalu melalui transfer yang sempat menjadikannya pesepakbola Afrika termahal sepanjang sejarah, sebelum penyerang asal Pantai Gading, Yan Diomande, melampaui nilai transfer tersebut saat pindah ke Real Madrid.
Meski tiba di wilayah barat laut Inggris dengan reputasi tinggi berkat kiprahnya di level internasional, pemain berusia 19 tahun itu belum mencapai performa terbaiknya di bawah Maresca. Dalam sembilan penampilan di semua kompetisi bersama klub raksasa Liga Primer Inggris tersebut sejauh musim ini, sang gelandang mencatatkan dua assist sembari berusaha menemukan ritme terbaiknya.
City harus segera melupakan hasil mengecewakan di kompetisi domestik pada Sabtu itu saat kembali mengalihkan perhatian ke kompetisi Eropa pada pertengahan pekan. Skuad Maresca bertandang ke Jerman untuk menghadapi RB Leipzig pada pertandingan keempat fase liga Liga Champions. Mereka saat ini berada di posisi ke-10 klasemen setelah mengumpulkan enam poin dari tiga laga pembuka. Belum diketahui apakah Bouaddi akan tetap menjadi starter atau kembali dimainkan dalam peran yang lebih dalam.
Pandit Man United di GOAL ID sejak 2013dan pengalamannya membentang dari ESPN Star Sports, Fox Sports hingga FIFA. Sesekali terjun ke lapangan mencatat live score pertandingan Indonesia Super League - yang datanya tampil real time di Google Live Feed dan banyak platform.
Lahir di Yogyakarta,PSIM adalah cinta pertama Adhe. Uniknya, takdir profesional justru membawanya meliput rival PSS selama bertahun-tahun. Kini, lingkaran itu terasa lengkap. Adhe berkesempatan kembali ke akar dan meliput tim masa kecilnya di kasta tertinggi.
Kenangan sepak bola favorit Adhe adalah meliput langsung pertandingan Indonesia melawan Belandadi GBK pada 2013, juga secara random bertemu Radja Nainggolan di tribun Stadion Sultan Agung, Bantul saat eks Inter tersebut bermain untuk Bhayangkara FC.
Bidang keahlian Adhe setelah belasan tahun dan ribuan pertandingan di sepak bola:
XI Sepanjang Masa Adhe (4-1-2-3)
Edwin van der Sar; Dani Alves, Paolo Maldini, Nemanja Vidic, Roberto Carlos; Roy Keane; Xavi, Paul Scholes; Lionel Messi, Ruud van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo.