“Saya akan merangkulnya”: Legenda Arsenal kecam Mikel Arteta atas reaksi “tidak baik” terhadap kartu merah Max Dowman saat kalah memalukan dari Fleetwood

“Saya akan merangkulnya”: Legenda Arsenal kecam Mikel Arteta atas reaksi “tidak baik” terhadap kartu merah Max Dowman saat kalah memalukan dari Fleetwood

Legenda Arsenal Paul Merson mengecam cara Mikel Arteta memperlakukan pemain muda Max Dowman setelah remaja itu diusir dari lapangan dalam laga Piala Liga Inggris. Arsenal tersingkir secara memalukan oleh klub League Two Fleetwood Town, tetapi tindakan Arteta di pinggir lapangan justru menjadi sorota

Legenda Arsenal Paul Merson mengecam cara Mikel Arteta memperlakukan pemain muda Max Dowman setelah remaja itu diusir dari lapangan dalam laga Piala Liga Inggris. Arsenal tersingkir secara memalukan oleh klub League Two Fleetwood Town, tetapi tindakan Arteta di pinggir lapangan justru menjadi sorotan utama.

Juara Liga Primer Inggris mengalami kekalahan mengejutkan pada Selasa, tersingkir setelah kalah 5-3 dalam adu penalti dari tim League Two, Fleetwood Town, seusai bermain imbang 1-1. Aaron Loupalo-Bi membuka keunggulan tuan rumah sebelum Viktor Gyokeres menyamakan kedudukan di hadapan penonton yang memadati Highbury. Meski menguasai 78 persen penguasaan bola dan melepaskan 26 tembakan, berbanding tiga milik Fleetwood, Arsenal gagal mencetak gol kemenangan.

Jalannya pertandingan berubah drastis pada menit ke-85. Pemain sayap berusia 16 tahun, Dowman, mendapat kartu merah langsung setelah menendang Harrison Neal sebagai balasan atas tekel kerasnya.

Saat remaja itu meninggalkan lapangan, Arteta tampak sangat marah. Pelatih asal Spanyol tersebut melontarkan kata-kata keras kepada pemain muda itu, menunjukkan rasa frustrasi karena ia gagal mengendalikan diri setelah menerima tekel keras.

Menyaksikan insiden di tepi lapangan itu, mantan bintang Arsenal, Merson, sangat mengkritik sikap Arteta. Berbicara kepadaSky Sports, pengamat tersebut menilai sang pelatih terlalu keras terhadap pemain muda itu.

“Saya lebih ingin tahu apa yang dikatakan Mikel Arteta kepadanya saat dia berjalan keluar. Menurut saya, ini sama sekali tidak terlihat baik,” kata Merson. “Kalau yang berjalan keluar itu [Viktor] Gyokeres, pemain tim nasional yang berpengalaman, dia tidak akan bersikap seperti itu. Namun, dia melakukannya kepada anak berusia 16 tahun?”

Merson menilai Arteta seharusnya lebih mendukung Dowman, mengingat pertandingan saat itu masih berlangsung ketat.

“Dia bukan pemain Arsenal terakhir yang akan mendapat kartu merah, dan bukan pula yang pertama. Kalau saya, saya akan merangkulnya,” tambahnya. “Skornya masih 1-1, mereka masih punya peluang dalam pertandingan. Kita semua pernah mengatakan sesuatu yang kemudian kita sesali. Kalau dia bisa mengulang momen itu, dia akan bertindak berbeda.”

Meski menolak mengungkapkan kata-kata persisnya kepada Dowman, Arteta mengisyaratkan bahwa skuadnya telah diperingatkan secara tegas mengenai permainan fisik lawan mereka dari divisi bawah. Pelatih Arsenal itu menyebut para pemainnya telah diberi arahan untuk tetap tenang saat menghadapi permainan keras.

Menanggapi insiden tersebut setelah pertandingan, Arteta hanya menjelaskan: “Itu adalah sesuatu yang kami bahas sebelum pertandingan.”

Ia kembali menekankan pentingnya disiplin mental saat menghadapi lawan seperti itu. “Saat kami mempersiapkan diri menghadapi situasi pertandingan ini, kami sangat jelas mengenai hal-hal yang harus dihormati dan hal-hal yang harus kami kendalikan secara emosional,” tambah Arteta. “Itu sudah sangat jelas.”

Setelah adu penalti dramatis ketika Jay Lynch menggagalkan tendangan Bruno Guimaraes sebelum Conor Haughey menuntaskan penalti penentu, Arsenal harus segera bangkit. Tersingkir oleh tim yang menempati peringkat ke-18 di kasta keempat sepakbola Inggris tentu terasa menyakitkan bagi sang juara dan memaksa mereka mengevaluasi kedalaman skuad serta kemampuan mengendalikan emosi.

Arteta perlu menangani dampak kekalahan ini dengan hati-hati, terutama terkait kembalinya Dowman ke skuad utama setelah malam yang sulit. Namun, Arsenal tidak punya waktu untuk terus meratapi kekalahan memalukan itu. Mereka harus segera bangkit dan mengalihkan fokus ke pertandingan besar Liga Primer Inggris melawan Liverpool.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.