Robert Lewandowski menyebut dua talenta muda yang saat ini menarik perhatiannya dan menjagokan sensasi Barcelona, Lamine Yamal, untuk meraih penghargaan individu pada masa depan. Namun, penyerang legendaris itu mengaku sama terpesonanya oleh perkembangan pesat bintang Bayern Munich, Michael Olise.
Mantan penyerang Barcelona Lewandowski tidak meragukan batas potensi Yamal. Pemain berusia 19 tahun itu menggemparkan dunia sepakbola sejak kemunculannya, dan kini menjadi sosok penting bagi klub maupun negaranya. Penyerang asal Polandia tersebut yakin sang winger memiliki segala yang dibutuhkan untuk suatu hari dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia.
Berbicara mengenai potensi pemain muda itu, Lewandowski menyatakan keyakinannya bahwa lulusan La Masia tersebut ditakdirkan meraih penghargaan individu tertinggi dalam sepakbola. “Tentu saja, saya mendukung Lamine untuk memenangkan Ballon d’Or karena dia luar biasa, terutama untuk usianya. Namun, jika dibandingkan dengan masa lalu, situasinya sekarang sedikit berbeda,” kata Lewandowski dalam wawancaranya denganThe Athletic.
Mengesampingkan riwayatnya sendiri dalam persaingan Ballon d’Or, Lewandowski berbicara terus terang tentang perubahan peta persaingan memperebutkan penghargaan individu paling bergengsi dalam sepakbola itu. Ia mengaku merindukan era yang diwarnai persaingan sengit Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, ketika perebutan penghargaan tersebut hampir selalu mengerucut pada dua atau tiga kandidat yang sangat diunggulkan.
Sebaliknya, Lewandowski menilai persaingan kini jauh lebih terbuka dan sulit diprediksi. Alih-alih didominasi dua pemain, saat ini ada banyak kandidat yang layak diperhitungkan. “Sekarang, yang saya lihat, persaingannya sedikit lebih terbuka. Mungkin sekarang Anda bahkan bisa menemukan 10 pemain, dan ada alasan untuk menjelaskan mengapa masing-masing dari mereka bisa memenangkan Ballon d’Or,” katanya.
Meski Yamal mendapat banyak sorotan, Lewandowski juga terus mencermati Bundesliga. Penyerang veteran itu mengaku terpukau oleh penampilan Olise di Allianz Arena. Lewandowski, yang saat ini bermain di Major League Soccer, tidak menyembunyikan kekagumannya kepada mantan pemain Crystal Palace tersebut. “Bagi saya, Olise itu seperti: ‘Wow.’ Dia pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan. Dan saya pikir kerja sama antara [Harry] Kane, Olise, dan [Luis] Díaz sangat cocok,” jelas pemain asal Polandia itu.
“Namun, saya terkesan karena Olise adalah pemain seperti itu. Masa depannya sangat cerah. Saya tahu semua orang membicarakan Lamine, tetapi terkadang saya mencoba mencari pemain lain dan melihat sesuatu yang belum dilihat semua orang. Bagi saya, mungkin jika (Olise) mencetak satu atau dua gol di Piala Dunia, dia juga akan menjadi favorit untuk memenangkan Ballon d’Or, bersama Lamine atau Harry Kane.”
Bagi penyelesai peluang setajam Lewandowski, kecerdasan Olise saat menguasai bola menjadi hal yang paling menonjol. Sang winger telah mencatatkan 9 gol dan 4 assist dalam sepuluh penampilan di semua kompetisi untuk klub Jerman tersebut musim ini. Efisiensi itu membantu Bayern mempertahankan posisi di puncak klasemen Bundesliga pada awal musim.
Lewandowski menyoroti kematangan pemain asal Prancis itu sebagai keunggulan utamanya. “Keputusan-keputusannya sempurna. Dia menguasai soal kapan harus bertindak, tahu kapan harus menembak untuk mencetak gol, kapan harus mengoper, dan jenis operan apa yang harus diberikan. Saya senang menonton Lamine, tetapi juga Olise,” tambahnya.
Mengawali karir di dunia jurnalistik pada tahun 2000 dengan liputan utama di bidang hukum dan kriminal, politik, serta sosial masyarakat. Namun di tengah pekerjaan itu, selalu berusaha meliput kegiatan olahraga, terutama pertandingan sepakbola, cabang olahraga yang saya gemari dan mainkan sejak kanak-kanak.
Pada 2002 bergabung ke Harian Terbit dengan fokus liputan olahraga umum, sampai akhirnya hijrah ke Goal pada 2009 yang membuat kecintaan kepada sepakbola tersalurkan. Saya lebih difokuskan meliput kegiatan sepakbola nasional, dan menangani koresponden.
Hadirnya sejumlah pemain keturunan yang memperkuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir membuat saya menaruh perhatian kepada mereka, terutama yang berkarir di luar negeri, memberikan penilaian terhadap kinerja pemain di klub masing-masing.
Bidang yang ditekuni:
Menganalisa dan meliput pertandingan Super League
Memberikan penilaian terhadap pemain abroad
Editorial dan artikel sepakbola nasional dan internaional
Momen tak terlupakan:
Meyaksikan pertandingan terakhir enam besar Persirakatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika PSMS Medan melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menghadapi PSM Makassar pada 1986 saat masih kanak-kanak. Di samping merasa senang dengan atmosfer yang tercipta di stadion, ada perasaan takut juga, karena banyak benda yang dilempar dari atas.