Paulo Fonseca membela keputusan berisikonya di Lyon usai dipermalukan Hoffenheim 3-0, fokus pada duel kontra PSG

Paulo Fonseca membela keputusan berisikonya di Lyon usai dipermalukan Hoffenheim 3-0, fokus pada duel kontra PSG

Paulo Fonseca dengan tegas membela keputusannya menurunkan skuad Lyon yang mengalami banyak perubahan setelah kekalahan telak 3-0 dari Hoffenheim di Liga Europa. Pelatih asal Portugal itu memilih mengistirahatkan sejumlah pemain inti di Jerman demi memprioritaskan laga besar domestik mendatang melaw

Paulo Fonseca dengan tegas membela keputusannya menurunkan skuad Lyon yang mengalami banyak perubahan setelah kekalahan telak 3-0 dari Hoffenheim di Liga Europa. Pelatih asal Portugal itu memilih mengistirahatkan sejumlah pemain inti di Jerman demi memprioritaskan laga besar domestik mendatang melawan Paris Saint-Germain.

Awal sempurna Lyon di Liga Europa terhenti pada Kamis malam. Setelah memenangi dua laga pertama mereka di kompetisi tersebut, raksasa Prancis itu kalah telak dari Hoffenheim dan gagal menemukan ritme permainan sepanjang malam yang sulit di PreZero Arena. Hasil ini menjadi kemunduran besar bagi tim yang hingga saat itu tampil nyaman di kompetisi Eropa.

Untuk laga penting ini, Fonseca dan staf pelatihnya mengambil keputusan berani dengan menurunkan susunan pemain awal yang eksperimental. Di dalamnya terdapat pemain muda seperti Rémi Himbert dan Steeve Kango. Kango mengalami insiden jatuh yang mengkhawatirkan dan harus dibawa ke rumah sakit pada babak pertama.

Meski permainan timnya tidak padu dan akhirnya kalah dengan selisih gol besar, sang pelatih tetap mempertahankan kebijakan pemilihan pemainnya seusai laga. Fonseca menegaskan bahwa pengaturan menit bermain secara cermat mutlak diperlukan. Ia pun tidak meragukan kembali pilihannya terkait susunan pemain, meski skor akhir menunjukkan kekalahan telak.

Alasan utama di balik pilihannya yang kontroversial adalah laga penting melawan PSG yang sudah menanti. “Kami mengatur menit bermain tim karena kami akan menghadapi pertandingan yang sangat penting dan sangat sulit melawan PSG. Jadi, saya harus mengatur menit bermain,” jelas pelatih asal Portugal itu, seperti dikutip olehRMC Sport.

Meski bertanggung jawab penuh atas pemilihan pemain, Fonseca jauh lebih sulit memaklumi cara para pemain yang turun ke lapangan menjalankan tugas mereka. Mantan pelatih Lille itu mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya intensitas dan fokus skuadnya saat menghadapi lawan dari Bundesliga tersebut. Penampilan itu tidak menunjukkan kekokohan pertahanan dan disiplin taktik yang menandai kebangkitan Lyon belakangan ini di kompetisi domestik.

“Mungkin pesan saya tidak tersampaikan. Cara kami harus bermain di sini sudah jelas, saya sudah banyak berbicara dengan para pemain. Namun, mungkin pesannya tidak sampai, saya tidak tahu,” aku pelatih Lyon itu.

Keputusan mengorbankan momentum di Eropa berkaitan langsung dengan posisi Lyon sebagai pemuncak klasemen liga. Mereka saat ini memiliki poin yang sama dengan PSG dan hanya bertahan di posisi pertama berkat selisih gol yang lebih baik. Dengan kedua rival perebutan gelar itu akan bertemu pada pekan kedelapan, Fonseca jelas memandang lawatan ke Jerman sebagai prioritas kedua dibandingkan laga penting yang menanti mereka di Parc des Princes.

Namun, jadwal laga besar domestik tersebut masih bisa berubah akibat pengerahan polisi secara luas di seluruh Prancis. Meski LFP tidak ingin menunda pertandingan itu, keputusan akhir berada di tangan Prefektur Kepolisian. Jika situasi keamanan memaksa penundaan, laga tersebut bisa dipindahkan ke Senin malam, yang berpotensi bertepatan dengan upacara Ballon d'Or di London.

Mengawali karir di dunia jurnalistik pada tahun 2000 dengan liputan utama di bidang hukum dan kriminal, politik, serta sosial masyarakat. Namun di tengah pekerjaan itu, selalu berusaha meliput kegiatan olahraga, terutama pertandingan sepakbola, cabang olahraga yang saya gemari dan mainkan sejak kanak-kanak.

Pada 2002 bergabung ke Harian Terbit dengan fokus liputan olahraga umum, sampai akhirnya hijrah ke Goal pada 2009 yang membuat kecintaan kepada sepakbola tersalurkan. Saya lebih difokuskan meliput kegiatan sepakbola nasional, dan menangani koresponden.

Hadirnya sejumlah pemain keturunan yang memperkuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir membuat saya menaruh perhatian kepada mereka, terutama yang berkarir di luar negeri, memberikan penilaian terhadap kinerja pemain di klub masing-masing.

Bidang yang ditekuni:

Menganalisa dan meliput pertandingan Super League

Memberikan penilaian terhadap pemain abroad

Editorial dan artikel sepakbola nasional dan internaional

Momen tak terlupakan:

Meyaksikan pertandingan terakhir enam besar Persirakatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika PSMS Medan melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menghadapi PSM Makassar pada 1986 saat masih kanak-kanak. Di samping merasa senang dengan atmosfer yang tercipta di stadion, ada perasaan takut juga, karena banyak benda yang dilempar dari atas.