Para pelatih Premier League soal "skandal" Manchester City: Keadilan menuntut hukuman bagi siapa pun yang terbukti curang

Para pelatih Premier League soal "skandal" Manchester City: Keadilan menuntut hukuman bagi siapa pun yang terbukti curang

Sikap-sikap yang berbeda

Sikap-sikap yang berbeda

Kasus tuduhan pelanggaran finansial yang ditujukan kepada Manchester City memicu perpecahan sikap di kalangan pelatih Liga Primer Inggris, setelah sejumlah dari mereka mengomentari perkembangan berkas tersebut dalam konferensi pers hari Jumat ini, menjelang laga-laga pekan mendatang, di saat berbagai pertanyaan terus bermunculan mengenai nasib kasus itu dan dampak potensialnya terhadap persaingan.

Pernyataan para pelatih pun beragam, mulai dari sikap hati-hati sambil menunggu keputusan final, kritik terhadap panjangnya proses, hingga tuntutan agar berkas ini segera diselesaikan, menyusul laporan yang menyebutkan bahwa klub dinyatakan bersalah atas 115 tuduhan terkait dugaan pelanggaran finansial sepanjang 9 musim, sementara proses hukum yang berkaitan dengan kasus ini masih berlangsung.

Andoni Iraola, mantan pelatih Bournemouth dan kini menangani Liverpool, menunjukkan kehati-hatiannya dalam mengomentari kasus tersebut, menegaskan bahwa ketiadaan gambaran yang utuh membuat pemberian penilaian menjadi hal yang tidak adil, dan bahwa komite berwenanglah yang paling mampu memberikan jawaban setelah waktu panjang yang mereka alokasikan untuk mempelajari berkas ini.

Iraola mengatakan bahwa kondisi ketidakpastian tidak menguntungkan pihak mana pun, sambil menekankan perlunya bersikap sabar dan menunggu hasil dari proses tersebut. Ia juga menegaskan bahwa sulitnya laga melawan Manchester City yang akan datang akan membuat fokus para pemain tertuju ke lapangan, jauh dari kebisingan yang mengelilingi kasus ini.

Di sisi lain, Xabi Alonso, pelatih Chelsea, lebih memilih menjauh dari kontroversi, menegaskan bahwa timnya tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kasus tersebut, dan bahwa prioritasnya adalah berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan di dalam klub, dengan menghormati jalannya proses.

Sebaliknya, David Moyes, pelatih Everton, lebih kritis terhadap panjangnya berkas ini, dengan mengingat kembali sanksi yang diterima klubnya berupa pengurangan 8 poin pada musim 2023-2024 akibat pelanggaran aturan Profit and Sustainability.

Moyes mengatakan bahwa ia sulit memahami berlanjutnya kasus-kasus lain selama hampir 10 tahun tanpa penyelesaian, meskipun ada sanksi yang dijatuhkan kepada sejumlah klub dalam periode yang lebih singkat. Namun, pada saat yang sama, ia memuji kontribusi teknis Manchester City, dengan menilai bahwa gaya bermain, para pelatih, dan para pemain yang silih berganti di klub tersebut turut berperan dalam mengangkat level Liga Primer Inggris.

Sementara itu, Michael Carrick, pelatih Manchester United, menggambarkan kasus ini sebagai situasi luar biasa mengingat besarnya klub dan pengaruhnya, sambil menuntut kejelasan yang lebih besar mengenai bagaimana persoalan ini akan berakhir.

Ia menyebutkan bahwa berkas tersebut meninggalkan dampak pribadi padanya seiring berjalannya waktu, di tengah pertanyaan mengenai kemungkinan peninjauan ulang sejumlah gelar yang diraih City dengan mengalahkan para pesaingnya.

Adapun Oliver Glasner, pelatih Nottingham Forest, berpegang pada sikap menunggu keputusan final, dengan menunjukkan adanya banding yang masih dalam proses, serta menegaskan bahwa keadilan menuntut agar siapa yang terbukti curang dihukum dan siapa yang tidak melakukan pelanggaran tidak dihukum. Ia juga menyerukan agar kasus ini segera diselesaikan demi menjaga integritas persaingan dan reputasi Liga Primer Inggris.

Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan untuk mengakhiri salah satu kasus paling kontroversial dalam sepak bola Inggris, sementara nasib tuduhan dan sanksi yang mungkin dijatuhkan tetap bergantung pada jalur hukum dan keputusan final yang dikeluarkan oleh pihak-pihak berwenang.