Selama berminggu-minggu, Luis Diaz terus dirundung kesialan. Namun, saat Bayern Munich menang 6-1 atas RB Leipzig, ia mencetak tiga gol dari nilai xG 0,61. Bagaimana itu bisa terjadi? Direktur olahraga Bayern Munich, Max Eberl, punya teori.
Dibandingkan dengan pertunjukan yang sebelumnya disuguhkan Luis Diaz pada malam musim gugur yang diguyur hujan di Allianz Arena itu, apa yang terjadi setelah pertandingan justru sangat kalem. Diaz menjadi salah satu pemain terakhir yang keluar dari area ruang ganti seusai kemenangan 6-1 Bayern Munchen atas RB Leipzig pada pekan keenam Bundesliga. Tudung jaketnya ditarik rendah menutupi wajah, dengan ekspresi yang mungkin ia tiru dari Mr. Nonchalant Michael Olise. Setidaknya, ia membawa bola pertandingan yang telah ditandatangani rekan-rekannya, sebagaimana layaknya pencetak hat-trick. Sesaat sebelum meninggalkan stadion, ia sempat mengacungkan jempol dengan cepat.
Namun, betapa lega dirinya setelah penampilan gemilang itu sebenarnya sudah bisa ditebak dari selebrasi penuh semangatnya saat merayakan ketiga golnya dan gol-gol rekan setimnya.
Itu bukan hat-trick pertama Luis Diaz untuk Bayern. Pada Februari, ia juga mencetak tiga gol ke gawang TSG Hoffenheim dalam kemenangan 5-1. Itu pun bukan gol pertamanya sejak ia mengalami krisis gol pada Agustus; ia sudah mencetak gol saat bermain imbang 3-3 di kandang Viking Stavanger dalam Liga Champions pada Selasa.
Meski begitu, begitu ia mencetak gol pertamanya melawan Leipzig, entah bagaimana sudah terasa bahwa ada beban yang terangkat. Mungkin karena selebrasinya yang begitu lepas, mungkin juga karena kali ini Bayern tidak perlu mengejar ketertinggalan sejak awal, melainkan unggul lebih dulu pada fase pertandingan yang terbilang dini, tepatnya menit ke-12. Diaz bahkan bisa saja mencetak gol pada menit pertama. Namun, setelah serangan cepat yang dibangun Harry Kane dan Michael Olise, ia terlalu lama mengambil keputusan sehingga kehilangan posisi tembak yang bagus.
Itulah satu-satunya momen malam itu ketika ia mengingatkan orang pada sosok penyerang yang tampil memprihatinkan dalam beberapa pekan terakhir: mencoba hal-hal yang terlalu rumit saat berada dalam posisi menjanjikan, atau berhasil membobol gawang tetapi golnya dianulir karena offside, entah keputusan itu tepat atau tidak. Dari nilai xG 3,1 dalam empat laga pertama Bundesliga, ia hanya menghasilkan satu gol. Pekan lalu di Augsburg, tiga golnya tidak disahkan karena posisi offside.
Kali ini, setelah mencetak gol pembuka untuk keunggulan 1-0, ia juga memberi umpan bagi gol Aleksandar Pavlovic yang mengubah skor menjadi 2-0, mencetak gol untuk keunggulan 4-0 dan 6-0, serta mengawali proses gol yang menjadikan skor 5-0. Tiga gol itu pun tidak serta-merta bisa diperkirakan, sebab semuanya berasal dari nilai xG 0,61!
Namun, ketika segalanya berjalan lancar, semuanya pun terasa mudah. Sekejap, krisis gol Luis Diaz berakhir. Sekejap pula, potensi krisis hasil Bayern Munchen setelah dua hasil imbang beruntun sirna.
Jelas, seperti disebutkan tadi, Diaz dan Bayern terbantu karena kali ini mereka tidak harus mengejar ketertinggalan setelah pertandingan baru berjalan beberapa saat. Mereka tentu juga terbantu oleh fakta bahwa, meski RB Leipzig yang datang bertandang adalah "tim yang masih benar-benar termasuk jajaran teratas di Jerman", seperti kata direktur olahraga Max Eberl, tim yang dianggap papan atas itu selalu kebobolan banyak gol dalam pertandingan-pertandingan terakhir: 1-5, 0-6, 3-3, 1-5, begitulah hasil-hasil terakhir mereka di Bundesliga, dan kini 1-6.
Tim yang kemungkinan merupakan nomor tiga di Jerman dan bahkan bisa menyalip Bayern di klasemen dengan sebuah kemenangan itu justru menjadi lawan yang sempurna untuk membantu sang juara pemegang rekor yang sedang sedikit tersendat, beserta penyerangnya yang hingga saat itu belum beruntung, bangkit.
Pertanyaannya kini, bagaimana lonjakan gol mendadak pemain Kolombia itu bisa dijelaskan? Max Eberl punya teori yang masuk akal, tetapi tidak akan disukai kalangan yang gemar berdebat di kedai, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan semua orang yang berpendapat bahwa kita semua, apalagi pesepakbola, memang terlalu sedikit bekerja dan terlalu banyak memiliki waktu luang. "Istirahat itu baik untuk Lucho, dua pekan untuk memulihkan diri sangat membantu," katanya di mixed zone, lalu kembali menyampaikannya dalam konferensi pers saat ia mewakili pelatih Vincent Kompany yang sedang tidak fit.
Bayern dan federasi sepakbola Kolombia memberi Diaz, yang banyak bermain, cuti khusus selama dua pekan setelah laga kandang terakhir Bundesliga sebelum jeda internasional. "Lucho bermain sangat banyak musim lalu, lalu ada Piala Dunia. Setelah itu, ekspektasi terhadapnya sangat besar, tetapi belum semuanya berjalan sesuai harapan. Pemulihan itu membantu, ia lebih segar, ia siap," kata Eberl.
Terlebih lagi, ini bukan pertama kalinya Kompany dan Bayern memberi Luis Diaz cuti khusus, dan ia juga bukan satu-satunya pemain yang mendapatkannya. Pada Desember lalu, Kompany sudah mengizinkan sang penyerang berlibur selama beberapa hari ketika ia terkena skorsing akibat kartu merah di Liga Champions. Bek sayap Alphonso Davies pun diizinkan menjalani bulan madu yang sempat tertunda pada jeda internasional terakhir.
Kalangan yang gemar berdebat di kedai harus siap menerima kenyataan ini: liburan itu membantu! Bahkan di tengah musim.