Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis dengan tegas membantah spekulasi yang kembali mencuat bahwa ia bersiap melepas kendali atas klub besar Italia itu menyusul pertemuan baru-baru ini di kota tersebut. Produser film kawakan itu juga mengungkapkan bahwa ia pernah menolak tawaran fantastis bernilai beberapa miliar euro dari investor Timur Tengah.
De Laurentiis kembali menegaskan bahwa Napoli tetap berada di tangannya setelahCorriere dello Sportmelaporkan pertemuan terbaru dengan pengusaha Italia-Amerika Matt Rizzetta. Setelah menyelamatkan klub yang bangkrut itu saat berada di Serie C pada 6 September 2004, pria berusia 77 tahun tersebut telah membawa Napoli meraih tujuh trofi utama, termasuk gelar Serie A 2022-23 dan 2024-25. Namun, pembicaraan terbaru dengan pemegang saham mayoritas Napoli Basket itu kembali memunculkan rumor pengambilalihan yang pertama kali dikonfirmasi pada Mei.
Selama 22 tahun di bawah kepemimpinan pria Italia itu, klub besar dari selatan Italia tersebut juga menjuarai Serie C 2005-06, meraih tiga gelar Coppa Italia (2012, 2014, dan 2020), serta dua trofi Supercoppa Italiana (2014 dan 2025).
Menjelaskan sikapnya dalam wawancara di Radio Kiss Kiss yang dikutipSky Sport Italiapada Kamis, De Laurentiis memaparkan negosiasi sebelumnya dengan konsorsium Rizzetta dan para peminat dari Timur Tengah: “Napoli tidak dijual. Orang-orang Arab menawari saya €3,5 miliar, tetapi saya tidak ingin pensiun. Saya masih tahu cara membuat film, begitu pula menjalankan sepakbola, yang awalnya sama sekali tidak saya pahami. Saya mempelajarinya meski menghadapi kesulitan yang tak terhitung jumlahnya.
“Sekitar setahun lalu, saya menerima permintaan bertemu dari Matt Rizzetta, yang tidak saya kenal. Saya membalasnya demi kesopanan. Dia memperkenalkan saya kepada beberapa lembaga investasi yang diwakilinya dan ingin membeli Napoli.
“Itu terjadi antara Februari dan Maret tahun lalu. Kami menghubungkan pengacara mereka dengan pengacara kami. Kami ingin menilai proposal tersebut, termasuk siapa yang berada di baliknya, meski kami tidak pernah benar-benar memulai proses uji tuntas.
“Mereka ingin membayar sebagian dari €2 miliar itu saat penandatanganan dan sisanya selama tiga tahun berikutnya. Awalnya, saya diberi tahu bahwa saya akan terus menjalankan klub, lalu secara bertahap mengurangi peran saya hingga akhirnya menjadi presiden kehormatan. Saya meminta jaminan bahwa pekerjaan yang telah kami lakukan selama 22 tahun menjalankan usaha ini akan berlanjut. Saya merasa punya tanggung jawab kepada para penggemar Napoli di seluruh dunia.
“Uang memang penting, tetapi itu urusan terakhir. Matt Rizzetta mengatakan kepada saya bahwa ada dua atau tiga lembaga investasi di belakangnya, tetapi €2 miliar itu akan dibayarkan selama beberapa tahun, bukan sekaligus.”
Pada Mei lalu, petinggi klub itu pertama kali menanggapi kemungkinan tawaran pengambilalihan dengan mengatakan: “Masalahnya bukan uang. Pertanyaannya, apakah penerus saya juga bisa memimpin dengan sepenuh hati?” Menjelaskan lebih lanjut pertemuan terbarunya dengan Rizzetta di Napoli pada Kamis, De Laurentiis menambahkan: “Saya senang menerimanya sebagai tamu. Dia pernah menjamu saya di Amerika untuk menonton pertandingan bola basket.
“Ketika dia mengungkit soal penjualan Napoli, saya memintanya agar tidak memulai lagi cerita berlarut-larut ini. Saya ingin membangun stadion, dan itu akan membutuhkan komitmen besar, juga secara fisik. Dia mungkin akan puas dengan Maradona. Jika ada stadion baru di tempat lain, akan sangat indah bila lokasi Maradona diubah menjadi taman luas yang penuh pepohonan.
“Untuk saat ini, saya belum memutuskan untuk menjual, tetapi jika saya melakukannya, saya lebih memilih menjual kepada seseorang dari Napoli ketimbang orang Amerika.
“Di tempat kita sendiri, kita semua tahu dengan siapa kita berurusan. Jika seseorang dari Napoli ingin mengambil alih dari saya dalam dua, tiga, atau lima tahun, itu tidak masalah. Saya telah bekerja selama 22 tahun untuk orang-orang yang luar biasa.”
Alih-alih mempertimbangkan tawaran dari lembaga investasi asing, De Laurentiis kini akan mencurahkan energinya untuk membangun stadion baru yang modern bagi klub di lokasi selain Stadio Diego Armando Maradona. Dengan tetap memegang kepemilikan penuh, ia menjaga stabilitas di jajaran pimpinan klub sementara peraih dua gelar Scudetto dalam beberapa tahun terakhir itu terus bersaing di Serie A dan Liga Champions. Setiap penyerahan kepemilikan pada masa mendatang kemungkinan akan menunggu munculnya pembeli asal Napoli dalam lima tahun ke depan.
Pandit Man United di GOAL ID sejak 2013dan pengalamannya membentang dari ESPN Star Sports, Fox Sports hingga FIFA. Sesekali terjun ke lapangan mencatat live score pertandingan Indonesia Super League - yang datanya tampil real time di Google Live Feed dan banyak platform.
Lahir di Yogyakarta,PSIM adalah cinta pertama Adhe. Uniknya, takdir profesional justru membawanya meliput rival PSS selama bertahun-tahun. Kini, lingkaran itu terasa lengkap. Adhe berkesempatan kembali ke akar dan meliput tim masa kecilnya di kasta tertinggi.
Kenangan sepak bola favorit Adhe adalah meliput langsung pertandingan Indonesia melawan Belandadi GBK pada 2013, juga secara random bertemu Radja Nainggolan di tribun Stadion Sultan Agung, Bantul saat eks Inter tersebut bermain untuk Bhayangkara FC.
Bidang keahlian Adhe setelah belasan tahun dan ribuan pertandingan di sepak bola:
XI Sepanjang Masa Adhe (4-1-2-3)
Edwin van der Sar; Dani Alves, Paolo Maldini, Nemanja Vidic, Roberto Carlos; Roy Keane; Xavi, Paul Scholes; Lionel Messi, Ruud van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo.