Arsenal mendapat pukulan telak akibat tiga cedera saat bersiap menghadapi Liverpool dalam laga krusial Liga Primer Inggris. Mikel Arteta mengonfirmasi bahwa sejumlah pemain kunci tim utama absen ketika Arsenal menelan kekalahan memalukan dari Fleetwood Town pada tengah pekan. Kini, mereka berpacu dengan waktu agar fit untuk pertandingan akhir pekan.
Arsenal tersingkir secara memalukan lewat adu penalti melawan klub League Two Fleetwood Town pada Selasa malam. Meski menurunkan susunan pemain inti yang kuat untuk mengatasi masalah kebugaran yang kian melanda skuadnya, Arteta tidak dapat membawa Declan Rice, Riccardo Calafiori, maupun Noni Madueke dalam lawatan ke Lancashire.
Absennya mereka secara mendadak memperparah krisis ketersediaan pemain yang kian meningkat di London utara. Arsenal sudah harus menghadapi cedera jangka panjang yang dialami sejumlah pemain penting, yakni William Saliba, Bukayo Saka, dan Christos Tzolis. Selain itu, Max Dowman kini harus menjalani skorsing di kompetisi domestik akhir pekan ini setelah menerima kartu merah akibat tindakan tidak disiplin dalam kekalahan mengejutkan di ajang piala tersebut, sehingga pilihan pemain dalam skuad menjadi sangat terbatas.
Berbicara setelah tersingkir lebih awal secara tak terduga, pelatih Arsenal itu memerinci alasan absennya para pemain reguler tim utamanya. Ia menyebut masalah Rice bermula saat kemenangan 2-0 atas Everton di liga pada Sabtu, yang akhirnya memaksanya menarik sang pemain lebih awal.
"Calafiori absen, Noni absen karena masalah pada pergelangan kaki, dan Declan merasakan ada masalah tempo hari (melawan Everton), itulah sebabnya saya harus menggantinya," jelas Arteta.
Meski kecewa dengan kekalahan tersebut, pelatih asal Spanyol itu enggan mengkritik keras skuadnya yang kekurangan pemain. Sebaliknya, ia memuji tuan rumah dari kasta keempat itu karena berhasil menciptakan kejutan bersejarah dan mengapresiasi atmosfer yang menyulitkan timnya pada malam itu.
"Pertama-tama, selamat kepada Fleetwood," kata pelatih Arsenal itu. "Cara mereka melakukannya, atmosfer yang mereka ciptakan. Saya tidak bisa menyalahkan para pemain atas sikap dan intensitas mereka sepanjang pertandingan, baik saat bermain dengan 11 maupun 10 orang. Namun, ketika Anda bermain dengan keunggulan seperti itu, Anda tidak boleh memberi lawan kesempatan sedikit pun."
Kekalahan mengejutkan Arsenal berarti penantian mereka selama 34 tahun untuk mengangkat trofi Piala Liga akan berlanjut setidaknya satu musim lagi. Meski mengendalikan pertandingan, mereka tersingkir sebelum mencapai perempat-final. Arteta terus terang menyebut hasil itu sebagai "hari yang sangat menyedihkan" bagi klub, seraya menyoroti kegagalan timnya mengubah dominasi menjadi gol.
"Ketika kami menciptakan tembakan dan peluang sebanyak itu, kami harus mencetak tiga, empat, atau lima gol," katanya. "Anda harus memanfaatkannya. Jika tidak, tidak ada ruang untuk kesalahan, dan itulah kenyataannya. Lalu Anda harus menunggu dan lolos ke babak berikutnya lewat adu penalti, dan kami tidak berhasil melakukannya.
"Kemungkinannya kecil melihat jalannya pertandingan, tetapi inilah sepakbola. Sekecil apa pun kemungkinannya, selalu ada peluang Anda tersingkir dari ajang piala."
Prioritas utama Arsenal saat ini adalah memulihkan kondisi skuad menjelang lawatan penting ke Anfield pada Minggu. Sudah ada secercah harapan terkait Rice, karena gelandang Inggris itu terlihat berlatih bersama rekan-rekan setimnya pada Senin meski mengalami cedera ringan pada akhir pekan.
Memiliki poin yang sama dengan Manchester City di puncak klasemen Liga Primer, Arsenal bertekad melanjutkan rentetan kemenangan mereka di liga saat menghadapi Liverpool. Setelah laga besar itu, tim Arteta akan bertandang ke markas Slavia Prague di Liga Champions, sebelum kembali ke Emirates untuk menjamu Hull City tepat menjelang jeda internasional November.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.