Manuel Akanji menyampaikan pesan tegas kepada rekan-rekannya di Inter menjelang Derby della Madonnina yang dinanti pada Sabtu. Ia memperingatkan bahwa mereka tidak boleh kembali mengawali laga dengan lamban saat menghadapi rival sekota, AC Milan. Bek asal Swiss itu menilai AC Milan harus dipaksa bekerja keras untuk mendapatkan setiap peluang, ketika kedua raksasa Italia tersebut bersiap menghadapi laga yang bisa berdampak besar pada perebutan gelar.
Inter menghadapi laga Sabtu dengan menempati puncak klasemen Serie A bersama Lazio. Inter belum terkalahkan pada musim 2026-27, mengumpulkan 25 poin dari delapan kemenangan dan satu hasil imbang.
Sebaliknya, AC Milan bertekad bangkit dari kekalahan 4-2 dari Bologna, yang menjadi kekalahan pertama mereka di liga musim ini. Kemenangan Inter akan membuat mereka unggul sepuluh poin atas rival sekotanya itu dan sangat merusak peluang AC Milan meraih gelar.
Meski mendominasi liga, anak asuh Cristian Chivu kerap tertinggal lebih dulu. Musim ini, mereka telah meraih 13 poin dari posisi tertinggal. Selain itu, Inter kesulitan dalam derby ini belakangan ini. Sejak April 2024, mereka gagal mengalahkan Milan dalam tujuh pertemuan terakhir, dengan lima kekalahan dan dua hasil imbang.
Menanggapi kecenderungan Inter kebobolan lebih dulu, bek itu menuntut fokus penuh. “Tidak mudah menjelaskannya. Bukan berarti kami mengawali pertandingan dengan buruk, tetapi terkadang kami melakukan kesalahan dan kebobolan,” kata pemain timnas Swiss itu kepadaSky Sport Italia. “Kami tidak boleh melakukan itu, terutama saat menghadapi tim-tim besar. Terkadang kami bisa lolos dari situasi itu, terutama jika lawan gagal memanfaatkan peluang yang mereka ciptakan. Kami tahu kami tidak boleh mengawali pertandingan seperti itu saat melawan Milan. Kami tidak boleh kebobolan gol mudah. Mereka harus bekerja keras untuk mencetak gol.”
Ketika ditanya apa yang dibutuhkan untuk mengakhiri rentetan pertandingan tanpa kemenangan melawan AC Milan, ia mengatakan: “Keinginan untuk menang. Itulah yang penting dalam sebuah derby. Kami harus menunjukkannya sejak menit pertama. Bukan hanya semangat juang, melainkan juga keinginan untuk meraih kemenangan. Mentalitaslah yang mendorong keinginan itu.”
Meski kemenangan akan menciptakan selisih besar di klasemen, Akanji tetap realistis. “Masih terlalu dini, tetapi tentu akan luar biasa jika kami memenangi pertandingan ini,” ujarnya. “Tim-tim yang dekat dengan kami terus meraih poin dan akan sulit untuk tetap berada di atas. Bagi kami, derby adalah salah satu pertandingan terpenting musim ini. Kami ingin meraih tiga poin.
“Tahun lalu, Milan bertahan dengan garis pertahanan rendah dan bermain cerdas. Kami tidak boleh memberi mereka peluang mudah. Kami semua harus bertahan dan menyulitkan mereka. Kami harus memanfaatkan situasi transisi ketika menguasai bola.”
Ia juga menyoroti dampak fisik yang masih terasa akibat jadwal pertandingan tanpa henti, yang semakin berat dengan diperluasnya Piala Dunia 2026.
“Bukan hanya soal itu, kami juga harus memikirkan beberapa tahun terakhir. Sebelum itu, ada Piala Dunia Antarklub, dan pada musim panas sebelumnya ada Piala Eropa,” tambahnya. “Untungnya, tahun depan akan ada jeda yang cukup. Ketika Anda bermain sebanyak itu, sulit untuk langsung memulai lagi.
“Anda mungkin merasa senang, mungkin menjalani Piala Dunia yang bagus, mungkin membutuhkan istirahat, tetapi tidak ada waktu. Tubuh merespons keadaan saat ini, sementara pikiran tidak secepat itu. Ini tidak mudah. Saya sekarang berusia 31 tahun. Kami harus berpikir dan bermain sebagai sebuah tim. Kami ingin menuntaskan semuanya dengan baik sebelum jeda internasional.”
Inter akan memasuki lapangan dengan menyadari bahwa mereka harus mengawali pertandingan dengan cepat untuk mengakhiri rentetan hasil buruk dalam derby belakangan ini. Mengalahkan rival bebuyutan mereka bukan hanya akan memperkokoh posisi di puncak Serie A, tetapi juga membuktikan kemampuan mereka menghadapi tuntutan fisik yang berat sebelum jeda internasional.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.