Kenang kembali malam bersejarah pada 2007 ketika tim asuhan Sir Alex Ferguson memperagakan permainan menyerang yang luar biasa untuk menghancurkan Roma 7-1. Berkat penampilan tanpa kenal lelah, Manchester United membalikkan ketertinggalan dari leg pertama dengan cara spektakuler.
Ada malam-malam ketika hujan di Manchester seolah membawa aliran listrik, energi yang menjalar dari Stretford End hingga ke lapangan. Malam 10 April 2007 adalah salah satunya. Suasana dipenuhi harapan akan kebangkitan di kompetisi Eropa, tetapi tak seorang pun di antara penonton yang memenuhi stadion bisa membayangkan betapa telaknya kekalahan yang akan terjadi. Tertinggal 2-1 dari leg pertama di Roma, Manchester United asuhan Sir Alex Ferguson tidak sekadar membuka jalan menuju semi-final. Mereka menghancurkan Roma lewat penampilan yang tetap terukir dalam sejarah legendaris Liga Champions.
United langsung menunjukkan niatnya sejak awal pertandingan. Michael Carrick, pelatih United saat ini yang kerap dipuji karena kehalusan permainannya, tampil agresif di lapangan pada menit ke-11. Menerima bola di tengah, ia mengangkat kepala lalu melepaskan tembakan melengkung yang membuat Doni terpaku. Gol itu menjadi pemantik. Roma, yang biasanya begitu tenang di bawah Luciano Spalletti, mendadak tampak seperti tim yang diterjang badai. Ketika Alan Smith, yang kembali dari cedera mengerikan, menghantam bola masuk untuk menciptakan momen bak dongeng pada menit ke-17, keadaan dalam duel dua leg itu sudah berbalik. Old Trafford bergemuruh, dengan riuh suaranya seakan menelan tim tamu asal Italia itu.
Belum sempat Roma mengatur napas, Wayne Rooney mencetak gol ketiga pada menit ke-19 dengan menyambar bola untuk menuntaskan rangkaian serangan yang begitu mengalir. Tiga gol dalam rentang tujuh menit telah mengubah ketertinggalan menjadi pembantaian. Para pemain Roma menoleh ke bangku pelatih mencari jawaban, tetapi tak ada solusi untuk menghadapi tim yang bermain dengan tempo seperti itu. Tepat sebelum jeda, sosok yang kelak menjadi wajah sepakbola Eropa selama satu dekade berikutnya tampil sebagai pusat perhatian. Cristiano Ronaldo menerobos pertahanan yang tampak ketakutan, lalu melepaskan tembakan mendatar ke sudut bawah gawang pada menit ke-44 untuk mengubah skor menjadi 4-0 saat turun minum. Pertandingan itu praktis sudah berakhir, tetapi penampilan United belum mencapai puncaknya.
Jika babak pertama berlangsung seperti sprint, babak kedua menjadi rangkaian penyelesaian peluang yang gemilang dan akurat. Baru empat menit setelah pertandingan dimulai kembali, Ronaldo kembali mencetak gol. Menyelinap ke area sekitar 5,5 meter di depan gawang dengan naluri mencetak gol yang kelak menjadi ciri khasnya, ia menyambut umpan silang Ryan Giggs untuk menghasilkan gol kelima. Itu menjadi pelajaran yang kejam bagi tim tamu. Setiap kali United melaju ke depan, lini belakang Roma seolah lenyap ditelan hujan Manchester. Para suporter tidak lagi sekadar bersorak; mereka tertawa tak percaya melihat betapa mudahnya para pemain pujaan mereka membongkar tim yang datang dengan harapan besar untuk mencapai semi-final.
Carrick, yang mungkin tengah menikmati malam terbaiknya bersama United, menambah gol keenam pada menit ke-60 lewat tembakan jarak jauh dengan teknik yang sempurna. Saat skor mencapai 6-0, orang-orang mulai sibuk memeriksa buku rekor. Daniele De Rossi sempat mencetak satu gol balasan bagi tim tamu pada menit ke-69, sebuah momen berkelas yang singkat dari kapten Roma, tetapi gol itu hanya menjadi catatan kecil dalam kisah yang sepenuhnya milik tuan rumah. Bahkan ketika Ferguson melakukan sejumlah pergantian pemain, intensitas United tak surut. Pemain dari bangku cadangan pun memberi sentuhan penutup bagi malam yang terasa seperti mimpi bagi para pendukung United.
Patrice Evra, yang terus mengancam lewat pergerakan menyusul serangan dari sisi lapangan, akhirnya mendapat ganjarannya pada menit ke-81. Tembakan mendatarnya dari tepi kotak penalti mengenai tiang sebelum bersarang di gawang sebagai gol ketujuh, memastikan kemenangan 7-1 pada malam itu dan keunggulan agregat 8-3. Skor tersebut menggema ke seluruh Eropa, mengirimkan pesan bahwa generasi baru bintang United benar-benar telah tiba. Peluit akhir disambut gemuruh yang agaknya bisa terdengar hingga ke seberang Pegunungan Pennines, merayakan malam ketika setiap operan menemui sasaran dan setiap tembakan terasa pasti akan masuk ke gawang.
Mengenang malam itu, yang menonjol bukan hanya banyaknya gol, melainkan juga cara gol-gol itu tercipta. Penampilan tersebut mengingatkan pada tradisi menyerang klub yang hebat, dengan para pemain berseragam merah bergerak cepat dalam keselarasan sempurna. Roma, klub yang memiliki sejarah kaya dan kebanggaan besar, hanya bisa menjadi penonton dalam mimpi buruknya sendiri. Bagi para suporter United, laga itu tetap menjadi tolok ukur tertinggi untuk malam-malam pertandingan Eropa di Old Trafford, ketika kejayaan masa lalu berpadu dengan kecemerlangan masa kini untuk menciptakan sesuatu yang sungguh abadi di bawah sorot lampu stadion.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.