Lille Bermain Buruk Sebelum Calvin Verdonk Masuk, Ancelotti: Kami Tak Pantas Dibantai Arsenal

Lille Bermain Buruk Sebelum Calvin Verdonk Masuk, Ancelotti: Kami Tak Pantas Dibantai Arsenal

Suara.com -PemainTimnas Indonesia,Calvin Verdonkmencetak sejarah. Verdonk jadi pemain Timnas Indonesia pertama yang cetak debut diLiga Champions.

Suara.com -PemainTimnas Indonesia,Calvin Verdonkmencetak sejarah. Verdonk jadi pemain Timnas Indonesia pertama yang cetak debut diLiga Champions.

Calvin Verdonk jalani debut di Liga Champions, Kamis (14/10) dinihari WIB saat masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-77 melawanArsenaldi Emirates Stadium.

Sayang pada laga debutnya itu, Verdonk telan pil pahit,Lilledilumat Arsenal 0-3.

Tiga gol kemenangan Arsenal dicetak Jurrien Timber (64'), Eberechi Eze (67'), Bukayo Saka (71').

Usai pertandingan pelatih Lille, Davide Ancelotti menilai anak asuhnya tidak layak menerima kekalahan telak.

Pelatih asal Italia itu mengakui timnya kesulitan menghadapi peningkatan intensitas permainan Arsenal setelah memasuki babak kedua.

Dalam wawancara dengan Canal+, Davide menegaskan bahwa skor 0-3 tidak sepenuhnya menggambarkan perjuangan Lille sepanjang pertandingan.

Ancelotti mengakui perbedaan kualitas permainan kedua tim mulai terlihat setelah pertandingan berjalan satu jam.

“Kami melihat perbedaan antara kedua tim mulai menit ke-60. Kami tidak pantas mendapatkan hasil ini. Kekalahan ini terlalu berat bagi kami,” ujar Davide.

Menurutnya, menghadapi Arsenal di kandangnya sendiri membutuhkan persiapan dan konsentrasi ekstra.

Lille sebenarnya mampu bertahan dengan baik dan menciptakan permainan yang cukup menjanjikan sebelum jeda.

“Kami bertahan dengan baik dan mampu melakukan beberapa hal dengan bola pada babak pertama. Namun, setelah itu, kami tidak bisa kebobolan tiga gol dalam lima menit,” katanya.

Kekalahan dari Arsenal menjadi evaluasi penting bagi Lille dalam perjalanan mereka di Liga Champions.

Meski menganggap skor akhir terlalu berat, Davide tetap harus mencari solusi agar timnya mampu bertahan lebih baik ketika menghadapi tekanan tinggi.

Pelatih asal Italia itu menyoroti ketidakmampuan anak asuhnya mempertahankan intensitas permainan setelah menit ke-60.

Menurutnya, Lille harus mampu menjaga fokus sepanjang pertandingan jika ingin bersaing dengan klub-klub elite Eropa.