Kuburan Premier League: Akankah Watkins Menyelamatkan Al Hilal dari Neraka Transfer Ketiga?

Kuburan Premier League: Akankah Watkins Menyelamatkan Al Hilal dari Neraka Transfer Ketiga?

Penyerang asal Inggris, Ollie Watkins, memulai petualangan barunya bersama Al Hilal di tengah ambisi besar, setelah "Sang Pemimpin" memilih seorang striker yang datang dari Liga Primer Inggris untuk memperkuat lini depan. Namun, transfer ini membawa tantangan lain yang tidak hanya berkaitan dengan s

Penyerang asal Inggris, Ollie Watkins, memulai petualangan barunya bersama Al Hilal di tengah ambisi besar, setelah "Sang Pemimpin" memilih seorang striker yang datang dari Liga Primer Inggris untuk memperkuat lini depan. Namun, transfer ini membawa tantangan lain yang tidak hanya berkaitan dengan sang pemain, melainkan juga dengan sejarah singkat sekaligus menarik dari para penyerang Premier League yang mengenakan kostum Al Hilal dalam beberapa tahun terakhir.

Al Hilal sebelumnya telah bertaruh pada lebih dari satu penyerang yang datang dari lapangan-lapangan Inggris, dan hasilnya sangat beragam; dimulai dari striker Serbia Aleksandar Mitrovic yang menjelma menjadi salah satu bintang terpenting tim, hingga penyerang Uruguay Darwin Nunez yang datang dari Liverpool, namun tidak mampu memberikan kontribusi yang diharapkan, sebelum akhirnya meninggalkan tim dengan status pinjaman.

Ketika Al Hilal mendatangkan Mitrovic dari Fulham, striker Serbia itu membawa pengalaman besar di sepak bola Inggris, tetapi ia hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk membuktikan bahwa pilihan tersebut tepat.

Pada musim pertamanya bersama "Sang Pemimpin", Mitrovic tampil dengan performa ofensif yang luar biasa dan mencetak 28 gol di Liga Roshn, menutup musim sebagai runner-up dalam perburuan gelar pencetak gol terbanyak. Ia juga memainkan peran menonjol dalam mengantarkan Al Hilal meraih empat gelar lokal selama periode yang dijalaninya bersama tim.

Baca juga:Dipimpin Watkins, Al Hilal kerahkan seluruh senjata di klasik melawan Al Ahli

Pengalaman Mitrovic membuka pintu bagi gagasan mendatangkan penyerang lain dari Premier League, tetapi kepergiannya pada musim panas 2025, setelah ia mengalami cedera yang kala itu memicu perdebatan luas tentang dampaknya terhadap masa depannya, mendorong manajemen Al Hilal untuk mencari nama baru, dan pilihan pun jatuh pada Nunez.

Di sinilah dimulai cerita yang membuat Watkins hari ini tiba di tengah pertanyaan yang lebih banyak dari biasanya; mampukah ia mengulang kesuksesan Mitrovic, atau justru akan menghadapi nasib serupa dengan yang dialami Nunez?

Kedatangan Darwin Nunez ke Al Hilal dari Liverpool merupakan transfer besar dari segala sisi, dan ekspektasi pun meningkat terhadap kemampuan penyerang Uruguay itu untuk memimpin lini depan, terutama setelah publik dunia mengenalnya melalui perjalanannya di Eropa dan Liga Inggris.

Anda dapat mendiskusikan berbagai topik dan berita secara lebih mendalam di forum "Kooora"

Namun, keadaan tidak berjalan sesuai harapan di dalam tim "Sang Pemimpin", karena Nunez gagal mendapatkan konsistensi yang ia butuhkan, dan pengaruhnya berangsur menurun, sebelum ia keluar dari perhitungan dan meninggalkan Al Hilal dengan status pinjaman ke Al Diriyah.

Dengan demikian, gambaran di hadapan Watkins menjadi jelas; ada pengalaman Mitrovic yang sukses secara mengagumkan, dan pengalaman Nunez yang berakhir dengan cepat. Di antara keduanya, penyerang Inggris ini berdiri menghadapi ujian yang sama sekali berbeda, karena ia dituntut membuktikan bahwa pemain yang datang dari Premier League tidak selalu berarti mengulang skenario yang sama.

Persoalan bagi Watkins adalah bahwa para suporter tidak akan memandang transfer ini sekadar sebagai nama baru, melainkan secara otomatis akan membandingkannya dengan Mitrovic dan Nunez, apalagi Al Hilal telah membayar harga besar demi mendapatkan jasanya, sehingga membuat margin kesalahan menjadi jauh lebih kecil.

Namun, sang pemain memiliki sejumlah modal yang dapat membantunya meraih sukses; ia adalah penyerang dengan pengalaman panjang di Liga Inggris, mahir bergerak di belakang para bek, melakukan pressing, dan masuk ke kotak penalti. Ia juga memiliki kemampuan untuk bermain dalam sistem ofensif yang mengandalkan kecepatan dan transisi, elemen-elemen yang mungkin sesuai dengan gagasan pelatih Italia, Simone Inzaghi.

Yang terpenting, Watkins tiba di Al Hilal dalam sebuah tim yang berbeda dari tim yang pernah dibela Mitrovic atau Nunez, karena ia akan menemukan nama-nama ofensif baru di sekitarnya seperti Gabriel Martinelli dan Crysencio Summerville, yang berarti dukungan yang akan ia terima bisa lebih besar, dan tanggung jawab menciptakan peluang tidak akan jatuh pada satu pemain saja.

Namun sebaliknya, banyaknya bintang bisa menjadi pedang bermata dua; sang penyerang Inggris membutuhkan keselarasan yang cepat dengan rekan-rekannya, serta pemahaman tentang cara bermain yang diinginkan Inzaghi, sebab kesuksesannya tidak akan diukur dari jumlah nama yang ada di sekelilingnya, melainkan dari kemampuannya mengubah kualitas itu menjadi gol.

Karena itu, Watkins tidak datang ke Al Hilal sekadar untuk menggantikan sebuah nama yang telah pergi, melainkan masuk ke sebuah klub yang membawa serta kisah lengkap tentang para penyerang Premier League. Mitrovic meninggalkan warisan yang berat berupa angka-angka dan gelar-gelar, sementara Nunez meninggalkan pengalaman yang tidak tuntas, dan kini tiba giliran sang pemain Inggris untuk menentukan sendiri babak ketiga.

Jadi, akankah Watkins menjadi sosok yang mematahkan kutukan penyerang Premier League di Al Hilal dan mengulang keberhasilan Mitrovic, atau justru mendapati dirinya menghadapi nasib Nunez? Jawabannya hanya akan ditulis oleh gol-gol, di dalam lapangan.