“Kelihatannya tidak bagus”: Kyle Walker akui mungkin terpaksa menghapus tato “empat kali berturut-turut” jika gelar-gelar Liga Primer Inggris Manchester City dicabut

“Kelihatannya tidak bagus”: Kyle Walker akui mungkin terpaksa menghapus tato “empat kali berturut-turut” jika gelar-gelar Liga Primer Inggris Manchester City dicabut

Kyle Walker mengaku mungkin terpaksa menjalani prosedur laser yang menyakitkan untuk menghapus tato kenang-kenangan jika Manchester City pada akhirnya dicabut gelar-gelar juaranya. Bek veteran itu, yang meraih banyak trofi selama membela klub di Stadion Etihad, memiliki pengingat permanen atas penca

Kyle Walker mengaku mungkin terpaksa menjalani prosedur laser yang menyakitkan untuk menghapus tato kenang-kenangan jika Manchester City pada akhirnya dicabut gelar-gelar juaranya. Bek veteran itu, yang meraih banyak trofi selama membela klub di Stadion Etihad, memiliki pengingat permanen atas pencapaian bersejarah klub yang terukir di kulitnya.

Sebuah komisi independen baru-baru ini menyatakan Manchester City bersalah atas 114 pelanggaran peraturan finansial Liga Primer Inggris. Dakwaan tersebut sebagian besar berkaitan dengan tuduhan bahwa klub menggelembungkan pendapatan komersialnya secara artifisial melalui perjanjian sponsor yang tidak sah.

City membantah keras tuduhan tersebut dan telah secara resmi mengajukan banding atas putusan itu. Namun, mereka menghadapi sederet sanksi olahraga berat jika putusan bersalah tersebut tetap berlaku.

Hukuman yang mungkin dijatuhkan berkisar dari denda besar dan larangan transfer hingga pengurangan poin dalam jumlah besar yang bisa membuat klub terdegradasi ke Championship. Pihak berwenang juga dapat mencabut gelar-gelar yang diraih City selama periode tersebut secara retrospektif, sehingga enam gelar liga yang diraih Walker antara 2017 dan 2025 pun menjadi tidak pasti.

Dalam penampilan terbarunya ditalkSPORT, bek Burnley itu mengakui bahwa ia memiliki tato di kakinya untuk merayakan dominasi City yang belum pernah terjadi sebelumnya di liga dari 2021 hingga 2024. “Saya punya tato bertuliskan ‘four in a row’,” tegasnya.

Ketika ditanya apakah ia akan menghapus tato itu dengan laser jika gelar-gelar tersebut dicabut dari City, Walker menjawab: “Yah, mungkin saya harus melakukannya! Saya akan mencoba mempertahankannya, tetapi semoga gelar-gelar kami tidak dicabut.”

Mantan pemain timnas Inggris itu juga berbicara tentang dampak lebih luas dari putusan bersalah tersebut terhadap mantan rekan-rekan setimnya. “Ini persoalan besar yang mungkin akan ditanyakan kepada kami semua saat wawancara atau kesempatan lainnya,” tambahnya. “Situasinya tidak terlihat baik.”

Meski ketidakpastian membayangi mantan klubnya, Walker tetap teguh membela mantan rekan-rekan setimnya. Ia menegaskan bahwa para pemain hanya berfokus pada sepakbola ketika para petinggi klub menghadapi proses hukum.

“Kita tidak perlu menutup-nutupi fakta bahwa mereka telah dinyatakan bersalah, tetapi mereka sedang menempuh proses banding,” lanjut Walker. “Sebagai pemain, yang bisa saya katakan adalah kami hanya turun ke lapangan dan bermain sebaik mungkin sebagai sebuah tim. Saya akan membela para pemain seumur hidup saya, karena menurut saya apa yang kami lakukan dan capai selama periode itu luar biasa dan mungkin tidak akan pernah terulang. Namun, dari sudut pandang orang luar, situasinya tidak terlihat baik dan kami harus mengakuinya.”

City akan melanjutkan kiprahnya di Liga Primer Inggris musim ini di tengah ketidakpastian. Meski sanksi olahraga dinilai kecil kemungkinannya dijatuhkan sebelum seluruh proses banding dilalui, waktu pasti dan penerapan hukuman yang mungkin dijatuhkan belum dikonfirmasi.

Sementara itu, Walker akan berfokus pada tugasnya bersama Burnley, sembari berharap tato yang terus mengingatkannya pada era keemasan City itu tidak pada akhirnya menjadi simbol menyakitkan dari sejarah yang dihapus.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.