“Kami menghormati para pemain, tidak seperti kubu seberang”: Bintang Real Madrid Thibaut Courtois sindir Barcelona dalam pernyataan berapi-api jelang El Clasico

“Kami menghormati para pemain, tidak seperti kubu seberang”: Bintang Real Madrid Thibaut Courtois sindir Barcelona dalam pernyataan berapi-api jelang El Clasico

Ketegangan menjelang edisi terbaru El Clasico memuncak setelah Thibaut Courtois melontarkan kritik tajam terhadap perilaku Barcelona. Saat kedua raksasa Spanyol bersiap menghadapi duel krusial di puncak klasemen La Liga, kiper asal Belgia itu menilai kubu Barcelona menunjukkan sikap yang jauh dari b

Ketegangan menjelang edisi terbaru El Clasico memuncak setelah Thibaut Courtois melontarkan kritik tajam terhadap perilaku Barcelona. Saat kedua raksasa Spanyol bersiap menghadapi duel krusial di puncak klasemen La Liga, kiper asal Belgia itu menilai kubu Barcelona menunjukkan sikap yang jauh dari berkelas.

Barcelona menyongsong El Clasico dengan rekor domestik sempurna, tanpa kehilangan satu poin pun di La Liga musim ini. Namun, laju impresif mereka mendapat pukulan telak setelah kalah dari Paris Saint-Germain pada pertengahan pekan, kekalahan pertama mereka di semua kompetisi musim ini.

Sebaliknya, Real Madrid menjalani musim yang sebagian besar mengecewakan menurut standar tinggi mereka sendiri. Pasukan Jose Mourinho baru mulai menemukan ritme permainan dan membangun momentum penting lewat dua kemenangan beruntun tepat sebelum bertandang ke Catalonia.

Berbicara menjelang derbi, Courtois tidak menahan diri saat menilai rivalitas sengit tersebut. Kiper berusia 32 tahun itu menyatakan bahwa klub asal Catalonia tersebut terus-menerus menolak mengakui kualitas Madrid. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya mengambil sikap yang lebih sportif dalam wawancara denganDAZN(viaMadrid Universal).

"El Clasico? Pertama-tama, kami sama sekali tidak punya masalah menyebut nama para pemain Barcelona. Di situlah saya rasa kami berbeda," kata Courtois. "Kami tidak keberatan memuji seseorang, sekalipun dia rival kami. Kami menghormati pemain yang tampil bagus, tidak seperti pihak lawan."

Kiper asal Belgia itu juga segera menepis anggapan bahwa pertandingan bersejarah tersebut telah kehilangan daya tariknya. "Mungkin pernah ada masa ketika El Clasico kekurangan pemain bintang, tetapi sekarang ada pemain-pemain baru yang tampil," tambahnya.

Rivalitas ini telah memasuki era baru setelah kepergian para legenda seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Courtois menyoroti gelombang baru pemain elite yang kini mewarnai pertemuan kedua tim, termasuk memuji seorang pemain remaja menonjol di kubu lawan.

"Kami punya Vinicius Jr, [Kylian] Mbappe, Jude [Bellingham]. Mereka punya Raphinha, Lamine [Yamal], yang merupakan pemain luar biasa," ujar kiper utama Madrid itu. Kedua tim saat ini sama-sama memiliki lini serang yang menakutkan, membuka peluang terjadinya pertarungan taktik yang sengit.

Courtois menutup penilaiannya dengan menegaskan besarnya motivasi timnya: "Ini rivalitas yang sengit. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah menyakiti kami di sejumlah pertandingan; sekarang saatnya kami membalas. Menang di kandang mereka akan mengirimkan pesan yang kuat."

Pertemuan mendatang memberi Real Madrid peluang besar untuk menghentikan rekor sempurna Barcelona di La Liga. Kemenangan meyakinkan di kandang lawan tidak hanya akan membalas kekalahan sebelumnya, tetapi juga membuktikan kebangkitan Madrid setelah mengawali tahun dengan lamban.

Bagi Barcelona, bangkit dari kekecewaan di kompetisi Eropa saat menghadapi PSG adalah hal yang sangat penting. Meraih tiga poin melawan rival terbesar mereka akan segera menghapus keraguan yang tersisa, menegaskan kembali dominasi mereka di kompetisi domestik, dan mengukuhkan posisi mereka sebagai tim yang harus dikalahkan di Spanyol.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.