Joan Laporta akui kepedihan El Clasico, tetapi peringatkan Real Madrid bahwa “ekspektasi Barcelona tetap utuh”

Joan Laporta akui kepedihan El Clasico, tetapi peringatkan Real Madrid bahwa “ekspektasi Barcelona tetap utuh”

Presiden Barcelona Joan Laporta mengungkapkan dampak emosional kekalahan dalam El Clasico baru-baru ini. Ia menyebut kekalahan dari Real Madrid sebagai pukulan berat bagi klub. Namun, Laporta tetap teguh pada target tim musim ini dan menegaskan bahwa upaya Barcelona meraih trofi bergengsi masih jauh

Presiden Barcelona Joan Laporta mengungkapkan dampak emosional kekalahan dalam El Clasico baru-baru ini. Ia menyebut kekalahan dari Real Madrid sebagai pukulan berat bagi klub. Namun, Laporta tetap teguh pada target tim musim ini dan menegaskan bahwa upaya Barcelona meraih trofi bergengsi masih jauh dari kata berakhir meski kalah dari rival bebuyutannya.

Laporta mengakui bahwa kekalahan dari Madrid pada Minggu menjadi pukulan besar bagi para pendukung klub. Namun, ia tetap yakin target tim musim ini masih bisa dicapai. Berbicara menjelang seremoni Ballon d'Or di London, sang presiden menyoroti kesulitan yang dihadapi dalam laga penting tersebut, ketika Blaugrana kesulitan menerapkan dominasi taktis yang biasanya mereka tunjukkan di lapangan.

“Kekalahan pada Minggu menjadi pukulan berat, tetapi harapan kami tetap sama. Tim ini terdiri dari pemain-pemain yang sangat muda dan bisa bangkit dengan sangat cepat. Kami tidak mampu memainkan permainan kami, tetapi kami masih berada di posisi pertama,” kata Laporta, seperti dikutipMarca.

Sang presiden menilai komposisi skuad saat ini yang didominasi pemain muda sebagai kekuatan. Menurutnya, mereka memiliki ketangguhan untuk bangkit dari kekalahan dalam laga derbi. Meski penampilan tim jauh dari harapan, Laporta menyerukan agar mereka tetap melanjutkan langkah tanpa panik. Ia menegaskan bahwa satu pertandingan tidak akan menentukan keseluruhan musim yang, di bawah kepemimpinan teknis baru, sejauh ini dimulai dengan sangat menjanjikan.

“Anda menganalisisnya dengan sangat baik, begitu pula pelatih kami. Mereka mengawal pemain-pemain kunci kami. Namun, ini maraton, bukan lari cepat, dan kami harus terus melangkah. Kami masih berada di posisi pertama,” ujarnya.

Optimisme Laporta bertumpu pada pekerjaan Hansi Flick, yang ia sebut sebagai sosok paling tepat untuk Barcelona. Sang presiden mengungkapkan bahwa komitmen Flick terhadap prinsip-prinsip bersejarah klub, dipadukan dengan penyesuaian modern yang dibawanya, menjadi alasan utama penunjukannya pada awal tahun ini. Pelatih asal Jerman itu berhasil memadukan tuntutan tradisional para pendukung Barcelona dengan pendekatan menyerang yang lebih langsung dan vertikal.

“Flick adalah pelatih ideal untuk Barcelona. Ia memahami gaya sepakbola kami yang khas. Kami memilih Hansi karena filosofi yang diusungnya: gaya bermain vertikal yang sangat kami sukai. Kami telah menjuarai La Liga dua tahun berturut-turut, dan tahun ini kami ingin memenanginya lagi, begitu pula Liga Champions,” jelas Laporta.

Menjuarai Liga Champions tetap menjadi prioritas utama jajaran petinggi klub, mengingat trofi tersebut belum berhasil mereka raih selama beberapa musim. Laporta yakin disiplin taktis yang ditanamkan Flick, khususnya garis pertahanan tinggi yang agresif dan tekanan tanpa henti, akan menjadi kunci untuk kembali bersaing dengan klub-klub elite Eropa.

“Kami sangat bersemangat untuk menjuarai Liga Champions, yang sejauh ini belum berhasil kami raih. Ia menerapkan gaya sepakbola berdasarkan tiga P: possession (penguasaan bola), positioning (penempatan posisi), dan pressing (tekanan),” pungkas Laporta.

Mengawali karir di dunia jurnalistik pada tahun 2000 dengan liputan utama di bidang hukum dan kriminal, politik, serta sosial masyarakat. Namun di tengah pekerjaan itu, selalu berusaha meliput kegiatan olahraga, terutama pertandingan sepakbola, cabang olahraga yang saya gemari dan mainkan sejak kanak-kanak.

Pada 2002 bergabung ke Harian Terbit dengan fokus liputan olahraga umum, sampai akhirnya hijrah ke Goal pada 2009 yang membuat kecintaan kepada sepakbola tersalurkan. Saya lebih difokuskan meliput kegiatan sepakbola nasional, dan menangani koresponden.

Hadirnya sejumlah pemain keturunan yang memperkuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir membuat saya menaruh perhatian kepada mereka, terutama yang berkarir di luar negeri, memberikan penilaian terhadap kinerja pemain di klub masing-masing.

Bidang yang ditekuni:

Menganalisa dan meliput pertandingan Super League

Memberikan penilaian terhadap pemain abroad

Editorial dan artikel sepakbola nasional dan internaional

Momen tak terlupakan:

Meyaksikan pertandingan terakhir enam besar Persirakatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika PSMS Medan melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menghadapi PSM Makassar pada 1986 saat masih kanak-kanak. Di samping merasa senang dengan atmosfer yang tercipta di stadion, ada perasaan takut juga, karena banyak benda yang dilempar dari atas.