Cesc Fabregas mengungkapkan “penyesalannya” setelah Como meraih kemenangan sensasional 4-1 atas Manchester United di Liga Champions. Meski menjadi perancang strategi di balik salah satu hasil paling bersejarah bagi klub Italia itu, mantan gelandang Arsenal dan Chelsea tersebut mengakui telah melakukan kesalahan taktik yang membuat timnya gagal mencatatkan nirbobol.
Como menandai kiprah perdana mereka di Liga Champions dengan kemenangan 4-1 yang tak terlupakan atas Manchester United yang tengah kesulitan. Nico Paz tampil gemilang bagi tuan rumah dan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan berkat dua gol serta satu assist. Penampilannya menambah penderitaan raksasa Liga Primer Inggris itu, yang baru meraih dua kemenangan dari 11 pertandingan di semua kompetisi musim ini.
Jacobo Ramon mencetak gol keempat Como pada menit ke-76 untuk membuat kemenangan tuan rumah tak lagi terkejar. Namun, Joshua Zirkzee mencetak gol hiburan bagi tim tamu pada pengujung pertandingan.
Gol itu berawal langsung dari instruksi taktis yang diberikan dari bangku cadangan tuan rumah. Penurunan intensitas sesaat tersebut membuat malam yang selebihnya sempurna bagi tim Italia itu berakhir dengan sedikit kekecewaan.
Fabregas segera mengambil tanggung jawab penuh atas gol Zirkzee pada pengujung laga. Ia mengakui keputusannya untuk menjaga kondisi para pemain menjelang pertandingan liga akhir pekan justru berakibat buruk. Pelatih Como itu mengungkapkan bahwa ia telah menginstruksikan skuadnya untuk menurunkan intensitas setelah unggul nyaman dengan selisih empat gol.
“Saya menyesali sepuluh menit terakhir karena sayalah yang meminta tim memperlambat tempo. Masih ada pertandingan lain dan saat unggul 4-0, kami bisa sedikit mengatur permainan,” aku Fabregas. “Saya meminta para pemain berhenti berlari dan tetap berada di tengah. Itu yang saya sesali karena saya selalu menjadi orang pertama yang mendorong mereka untuk berjuang sampai akhir.
“Gol mereka menyakitkan bagi saya karena kami menurunkan intensitas dan garis pertahanan kami turun, tetapi itu kesalahan saya.”
Berbicara kepadaSky Sport Italiaseusai pertandingan, pria asal Spanyol itu juga menyempatkan diri berbagi momen tersebut dengan staf di balik layar timnya. “Saya ingin mempersembahkan kemenangan ini kepada salah satu staf perlengkapan kami. Dia tahu alasannya,” tambahnya.
Meski hasil itu begitu luar biasa, Fabregas tak ingin muncul anggapan bahwa Como bisa terus-menerus mengalahkan tim-tim elite Eropa dengan telak. Ia menekankan pentingnya kerendahan hati dan persiapan, seraya memuji keyakinan skuadnya saat mereka menjalani pengalaman baru di kompetisi Eropa.
“Ini malam yang istimewa, tetapi kami masih berada di awal dari semua yang ada dalam pikiran kami,” jelas Fabregas. “Tim bermain bagus malam ini, tetapi kami harus tetap membumi dan ingat bahwa ada pertandingan lain pada Sabtu.”
Ketika ditanya apakah mereka bisa mengulangi penampilan itu saat menghadapi lawan papan atas, ia mengatakan: “Saya tidak tahu soal itu, pernyataan tersebut terlalu berani. Kami harus berusaha tetap rendah hati.
“Kami akan selalu mempersiapkan diri dan mencoba memainkan permainan kami, baik saat menghadapi Inter di semi-final Coppa Italia maupun Napoli dan Roma di Serie A. Persiapan sangat penting, begitu pula keyakinan para pemain ini. Semuanya jauh lebih sulit jika mereka tidak memilikinya.”
Ia menyimpulkan: “Lawan kami malam ini adalah Manchester United. Tidak masalah jika mereka sedang kesulitan saat ini, kami tidak boleh melupakan bahwa bagi beberapa pemain kami, ini baru pertandingan Liga Champions ketiga sepanjang karier mereka.
“Itulah sebabnya keyakinan para pemain ini dan cara mereka melakukan segalanya memberi saya semangat. Menang dengan cara seperti ini sangat memuaskan, tetapi di sinilah tantangannya: bermain dengan cara yang sama pada Sabtu di Serie A.”
Como akan berusaha membawa momentum dari kompetisi Eropa ke kiprah mereka di Serie A saat menjamu Sassuolo pada Sabtu ini. Meski kemenangan bersejarah atas United itu layak menjadi sorotan utama, Fabregas menegaskan bahwa mempertahankan standar tinggi tersebut di liga akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuadnya yang kini lebih percaya diri.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.