KOMPAS.com- Kegagalan timnas Indonesia melaju ke semifinal ASEAN Championship 2026 tidak hanya menyisakan persoalan hasil.
Di balik skor 1-1 melawan Timnas Singapura, ada pekerjaan rumah besar di lini depan yang kembali terlihat ketika Indonesia membutuhkan gol untuk mengamankan kemenangan.
Sebenarnyatimnas Indonesiamemulai babak kedua dengan sangat baik. Ragnar Oratmangoen membawa tim unggul setelah memanfaatkan umpan Shayne Pattynama.
Keunggulan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengendalikan pertandingan hingga akhir.
Namun, Timnas Singapura mampu menyamakan kedudukan melalui Ilhan Fandi. Setelah itu, Indonesia kesulitan menciptakan peluang bersih yang bisa mengubah skor.
Baca juga:Catatan Pahit Timnas Indonesia di Piala AFF: 6 Kali Terhenti di Fase Grup, 6 Kali Runner Up
“Speechless(tak bisa berkata kata) karena secara keseluruhan sebenarnya kita secara keseluruhan jauh membaik dibandingkan melawan Vietnam," kata pengamat sepak bola nasionalGita Suwondokepada Kompas.com.
"Nyaris tidak ada blunder dan gol Ragnar tadi bisa jadi pembeda sebenarnya. karena setelah itu kita tetap lebih menguasai jalannya pertandinganball possessionmilik kita dan peluang juga,” imbuhnya.
Namun, permainan yang membaik belum diikuti ketajaman di depan gawang.Mitchell Bakermenjadi salah satu pemain yang mendapat sorotannya.
Sebab, ia menilai belum mampu memaksimalkan kesempatan yang dimilikinya, terutama ketika berada di area krusial dekat kotak penalti Timnas Singapura.
“Tapi balik-balik lagi peluang yang tidak bisa diselesaikan oleh Mitchell Baker. Kelihatan di sini dia hanya memiliki satu peluang di babak pertama di mana dia sempatdribblingtapi kemudian di-blockpemain belakang."
"Selebihnya dia sering kehilangan bola di zona 14 di kotak penalti,” tutur pengamat yang biasa disapa Bung GAZ itu.
Baca juga:Singapura Lagi-lagi Jadi Batu Sandungan Timnas Indonesia di Piala AFF, Kenangan 2018 Terulang
Menurutnya, seorang striker tidak cukup hanya mampu mencetak gol ketika mendapat umpan matang. Penyerang juga harus mempunyai kemampuan menciptakan perbedaan ketika harus menghadapi situasi secara individual.
“Itu kalau menurut pelatih kelas dunia seorang nomor 9 itu pantang atau dosa kalau kehilangan bola pada saat dia menerimafinal pass. dimana dia harus melakukan perbedaan dengandribblingatau apa pun,” sambungnya.
Untuk itu catatan empat gol Mitchell Baker sebelumnya juga menjadi bahan evaluasi. Ia melihat gol-gol tersebut lebih banyak lahir melalui situasi satu sentuhan dibandingkan proses ketika sang pemain harus menciptakan peluang sendiri.
“Tap indua danheadingdua pada saat umpan sempurna tapi saat sendirian untuk mencari gol tidak bisa,” tuturnya lagi.