Gelandang serang Bayer Leverkusen, Ibrahim Maza, mengungkapkan bahwa mendapat suara dari ikon Argentina Lionel Messi dalam pemilihan Trofi Kopa telah memacu ambisinya untuk meraih Ballon d'Or di masa depan. Ia juga berbicara tentang keputusan pribadi yang sulit saat memilih membela Aljazair, bukan Jerman, di level internasional dua tahun lalu.
Maza membidik penghargaan individu tertinggi dalam sepakbola setelah mendapat pengakuan dari sosok ternama pada seremoni Ballon d'Or 2026. Ia juga mengenang perjalanan kariernya bersama tim senior Aljazair. Messi menempatkan pemain muda Leverkusen itu di urutan ketiga dalam pilihannya untuk Trofi Kopa, penghargaan bagi pemain muda terbaik dunia. Meski mendapat dukungan dari pemenang Ballon d'Or delapan kali tersebut, pemain timnas Aljazair itu finis di posisi kesembilan dalam hasil akhir.
Berbicara kepadaRTLedisi Jerman tentang ambisi jangka panjangnya, Maza mengatakan: "Memenangkan Ballon d'Or adalah salah satu impian saya. Saya pikir meraih penghargaan seperti itu adalah impian setiap pesepakbola. Menurut saya, itu penghargaan yang luar biasa dan sangat istimewa."
Menjelaskan bagaimana pilihan penyerang Argentina itu dalam pemungutan suara Trofi Kopa mendorongnya untuk meningkatkan standar permainannya pada tahun-tahun mendatang, ia menambahkan: "Saya benar-benar menghargainya, dan itu luar biasa. Ketika Messi mengatakan Anda memiliki sesuatu yang istimewa, itu memberi Anda motivasi yang sangat besar. Ya, dukungan Messi memberi saya dorongan semangat tambahan."
Dijuluki 'Mazadona', pengatur serangan itu sebelumnya membela Jerman di level junior sebelum memilih membela tim senior Aljazair pada Oktober 2024. Menjelaskan mengapa keputusan untuk membela Aljazair tidak mudah, Maza menambahkan: "Memilih bermain untuk Aljazair sulit dalam beberapa hal. Ada sejumlah faktor yang harus saya pertimbangkan. Saya pernah membicarakannya, dan ada berbagai alasan, tetapi itu urusan pribadi. Saya lebih memilih menyimpannya untuk diri sendiri. Terlepas dari itu, keputusan tersebut sulit diambil."
Menegaskan kembali kebanggaannya mewakili negara Afrika Utara itu, ia menambahkan: "Sekarang keputusan itu sudah dibuat, dan dua tahun telah berlalu. Saya bangga dengan tim nasional Aljazair, dan saya senang mendapat kesempatan bermain untuk mereka. Saya akan memberikan segalanya di lapangan dan terus berjuang semaksimal mungkin untuk tim. Saya bangga mengenakan lambang bendera Aljazair di dada saya. Bisa mewakili negara ini adalah kehormatan yang luar biasa."
Sejak berganti tim nasional dua tahun lalu, Maza telah mencatatkan 24 penampilan bersama tim senior Aljazair, dengan sumbangan tiga gol dan dua assist. Menjelang jeda internasional November, pengatur serangan itu akan berupaya menambah catatannya saat bergabung dengan rekan-rekannya di tim nasional pekan depan. Di level klub, terus tampil gemilang bersama Bayer Leverkusen di Bundesliga akan menjadi hal penting dalam upayanya mengejar ambisi jangka panjang untuk meraih Ballon d'Or.
Ditulis olehAdhe Makayasa
Pandit Man United di GOAL ID sejak 2013dan pengalamannya membentang dari ESPN Star Sports, Fox Sports hingga FIFA. Sesekali terjun ke lapangan mencatat live score pertandingan Indonesia Super League - yang datanya tampil real time di Google Live Feed dan banyak platform.
Lahir di Yogyakarta,PSIM adalah cinta pertama Adhe. Uniknya, takdir profesional justru membawanya meliput rival PSS selama bertahun-tahun. Kini, lingkaran itu terasa lengkap. Adhe berkesempatan kembali ke akar dan meliput tim masa kecilnya di kasta tertinggi.
Kenangan sepak bola favorit Adhe adalah meliput langsung pertandingan Indonesia melawan Belandadi GBK pada 2013, juga secara random bertemu Radja Nainggolan di tribun Stadion Sultan Agung, Bantul saat eks Inter tersebut bermain untuk Bhayangkara FC.
Bidang keahlian Adhe setelah belasan tahun dan ribuan pertandingan di sepak bola:
XI Sepanjang Masa Adhe (4-1-2-3)
Edwin van der Sar; Dani Alves, Paolo Maldini, Nemanja Vidic, Roberto Carlos; Roy Keane; Xavi, Paul Scholes; Lionel Messi, Ruud van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo.