Hansi Flick mengungkapkan kekhawatirannya yang kian besar terkait agenda internasional Raphinha mendatang, yang akan membuat kapten Barcelona itu menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh 22.000 km ke Singapura. Pelatih asal Jerman tersebut mengaku telah berdiskusi dengan direktur olahraga Deco mengenai potensi dampak fisik perjalanan itu terhadap salah satu pemain terpentingnya.
Flick mengungkapkan kekhawatirannya terkait masuknya Raphinha ke skuad Brasil untuk laga-laga persahabatan pada November mendatang. Brasil dijadwalkan menghadapi Jepang dan Singapura di Asia, perjalanan yang menuntut upaya logistik besar bagi para pemain yang berbasis di Eropa. Jarak perjalanan yang diperkirakan mencapai sekitar 22.000 kilometer itu menimbulkan kekhawatiran di Camp Nou.
Flick mengungkapkan bahwa ia telah membahas situasi tersebut dengan direktur olahraga klub, Deco, dalam upaya menjaga kondisi pemain yang kini menjadi bagian tak tergantikan dalam sistem taktik Barcelona. Mantan pelatih Bayern Munich itu mewaspadai beban fisik yang harus ditanggung Raphinha, terutama mengingat riwayat kelelahan otot sang pemain sayap belakangan ini. "Saya sudah membicarakan hal ini dengan Deco. Dia pemain yang sangat penting. Sebelum jeda terakhir, dia datang dalam kondisi cedera, dan itu bukan situasi yang ideal. Namun, pada akhirnya memang begitulah keadaannya, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa soal itu," kata Flick, seperti dikutipSPORT.
Raphinha mengemban peran kepemimpinan musim ini dengan mengenakan ban kapten dan menjadi sosok penting dalam penerapan sistem tekanan tinggi Flick. Namun, sang pelatih memahami prioritas sepakbola internasional serta keinginan Raphinha untuk berkontribusi pada era baru tim nasional Brasil. Flick mencatat bahwa Brasil tengah menjalani masa transisi setelah Piala Dunia, yang tentu membuat setiap pemain ingin terlibat.
Flick menjelaskan situasi tersebut: "Dia kapten kami, tetapi dia juga orang Brasil, dan ketika tim nasionalnya memanggil, dia harus hadir. Terutama karena tim nasional Brasil sedang memasuki fase baru setelah Piala Dunia, dan saya rasa semua orang ingin hadir serta berkontribusi untuk membantu tim."
Dengan laga melawan Jepang pada 14 November dan Singapura pada 17 November, Flick berharap staf pelatih Brasil tidak memberi sang penyerang beban bermain berlebihan. Tujuan utama Barcelona adalah memastikan Raphinha kembali ke Catalunya tanpa mengalami cedera baru. Permintaan Flick sederhana: ia ingin pemain sayap itu tidak terlalu banyak dimainkan dalam laga-laga nonkompetitif di Asia tersebut.
Sang pelatih menyampaikan harapannya terkait jeda internasional itu secara terbuka: "Jika kami bisa sedikit mengurangi waktu bermainnya, saya akan senang. Perjalanan pergi-pulang ke Singapura tidak ideal, tetapi itu bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan dan ubah."
Kekhawatiran Barcelona berakar pada kejadian baru-baru ini, bukan sekadar spekulasi. Pada jeda internasional sebelumnya, Raphinha mengalami cedera otot saat laga persahabatan melawan Australia di Brisbane pada 29 September. Cedera itu memaksanya kembali lebih awal ke Spanyol dan membuat sang pemain sayap absen dalam beberapa pertandingan penting bagi tim Flick. Klub sangat ingin menghindari terulangnya situasi tersebut saat mereka bersaing di berbagai ajang.
Pemain asal Brasil itu mengalami berbagai gangguan fisik ringan sepanjang beberapa pemanggilannya belakangan ini, sehingga prosedur pemulihannya mendapat perhatian lebih besar. Sebagai bagian penting dari tim utama, kebugarannya menjadi prioritas klub. Mencegah kelelahan lebih lanjut dipandang penting untuk menjaga momentum tim selama bulan-bulan musim dingin yang krusial, ketika jadwal semakin padat dan menuntut bagi setiap anggota skuad.
Mengawali karir di dunia jurnalistik pada tahun 2000 dengan liputan utama di bidang hukum dan kriminal, politik, serta sosial masyarakat. Namun di tengah pekerjaan itu, selalu berusaha meliput kegiatan olahraga, terutama pertandingan sepakbola, cabang olahraga yang saya gemari dan mainkan sejak kanak-kanak.
Pada 2002 bergabung ke Harian Terbit dengan fokus liputan olahraga umum, sampai akhirnya hijrah ke Goal pada 2009 yang membuat kecintaan kepada sepakbola tersalurkan. Saya lebih difokuskan meliput kegiatan sepakbola nasional, dan menangani koresponden.
Hadirnya sejumlah pemain keturunan yang memperkuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir membuat saya menaruh perhatian kepada mereka, terutama yang berkarir di luar negeri, memberikan penilaian terhadap kinerja pemain di klub masing-masing.
Bidang yang ditekuni:
Menganalisa dan meliput pertandingan Super League
Memberikan penilaian terhadap pemain abroad
Editorial dan artikel sepakbola nasional dan internaional
Momen tak terlupakan:
Meyaksikan pertandingan terakhir enam besar Persirakatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika PSMS Medan melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menghadapi PSM Makassar pada 1986 saat masih kanak-kanak. Di samping merasa senang dengan atmosfer yang tercipta di stadion, ada perasaan takut juga, karena banyak benda yang dilempar dari atas.