FIFPro Serukan Tuntutan Reformasi ke FIFA Buntut Rencana Kontroversial

FIFPro Serukan Tuntutan Reformasi ke FIFA Buntut Rencana Kontroversial

KOMPAS.com- Federasi perwakilan pemain sepak bola dunia, FIFPro, melayangkan kritik keras kepada FIFA setelah muncul rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).

KOMPAS.com- Federasi perwakilan pemain sepak bola dunia, FIFPro, melayangkan kritik keras kepada FIFA setelah muncul rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).

FIFPromenilaiPresiden FIFA,Gianni Infantino, melakukan dugaan penyalahgunaan wewenang terkait proposal penjualan saham perusahaan yang mengelola Piala Dunia kepada investor swasta.

FIFPro, yang menaungi lebih dari 70 serikat pemain di berbagai negara, menyebut kepercayaan para pesepak bola terhadapFIFAtelah mengalami kerusakan akibat proses penyusunan proposal tersebut.

Sebelumnya, FIFA mengakui terdapat "kesalahan" dalam rencana pembentukan FFE. Meski demikian, badan sepak bola dunia itu menegaskan Infantino tetap memperoleh dukungan penuh dari anggota Dewan FIFA yang hadir dalam pertemuan di Maroko.

FIFPro menilai pembatalanproposal FFEmemang diperlukan, tetapi langkah itu belum cukup untuk memulihkan kepercayaan para pemangku kepentingan sepak bola.

"Pembatalan FFE adalah hal yang tak terelakkan. Namun, menarik kembali proposal tersebut tidak menghapus fakta yang telah terungkap karenanya," tulis FIFPro, dilansir dariESPN, Jumat (7/8/2026).

Baca juga:UEFA Abaikan Permintaan Maaf Gianni Infantino, Boikot Kompetisi FIFA Tetap Berlanjut

"Sebuah rencana yang mampu mengubah secara permanen kepemilikan dan tata kelola Piala Dunia FIFA, serta mengomersialkan kompetisi yang dibangun oleh berbagai generasi pemain, telah dirancang secara diam-diam, dinegosiasikan secara tertutup, dan hampir mencapai kesepakatan bahkan sebelum Dewan FIFA, asosiasi anggota, pemain, maupun pemangku kepentingan sepak bola yang diakui mengetahui keberadaannya."

"Hal itu bukan sekadar kegagalan tata kelola. Itu adalah penyalahgunaan kekuasaan presiden secara serius," tulis FIFPro.

Dalam pernyataannya, FIFPro menegaskan pembatalan proposal FFE tidak otomatis menghapus persoalan yang muncul selama proses penyusunannya.

Organisasi tersebut menilai reformasi tata kelola kini menjadi kebutuhan mendesak.

"Pembatalan FFE mencegah pengambilan keputusan yang tidak dapat diubah kembali. Namun, langkah itu tidak memulihkan kepercayaan yang memungkinkan munculnya proposal semacam itu sejak awal. Kepercayaan tersebut kini telah rusak secara mendasar."

Baca juga:UEFA Tetap Buka Opsi Boikot Piala Dunia meski FIFA Batal Jual Saham

"Kepercayaan itu tidak dapat dipulihkan melalui pernyataan yang disusun dengan hati-hati, tinjauan internal, ataupun janji untuk memperbaiki proses. Hal itu juga tidak dapat dipulihkan hanya dengan mengumumkan reformasi tata kelola dan struktural yang seharusnya sudah ada sejak lama."

"Reformasi ini kini mutlak diperlukan. Namun, reformasi tersebut merupakan tanggung jawab untuk masa depan, bukan penghapusan atas kesalahan masa lalu."

FIFPro juga menegaskan para pemain tidak menjadi penyebab munculnya persoalan tersebut.

"Para pemain bukanlah pihak yang menciptakan krisis ini. Mereka akan mendesak agar sepak bola bangkit dari krisis ini dengan institusi yang lebih kuat, mekanisme perlindungan yang lebih kokoh, serta kepemimpinan yang layak mendapatkan kepercayaan sebagaimana dituntut oleh olahraga ini."