Suporter Persib berusia 16 tahun tewas diserang usai menonton laga di Bogor.
Erick Thohir mendesak sanksi pengurangan poin klub dan pengusutan tuntas kasus kriminal.
Kepolisian telah mengamankan lima orang terduga pelaku yang terlibat penyerangan maut.
Suara.com -Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora),Erick Thohir, menyoroti kembali pentingnya penegakan aturan dalam sepak bola Indonesia setelah seorangsuporterPersib BandungatauBobotohmeninggal dunia akibat menjadi korban penyerangan.
Erick turut menyinggung sanksi pengurangan poin bagi klub apabila kekerasan suporter kembali terjadi di area pertandingan. Menurutnya, hukuman tegas diperlukan untuk memberikan efek jera agar tragedi serupa tidak terulang.
Insiden yang menewaskan Bobotoh tersebut terjadi setelah pertandingan Garudayaksa FC melawan Persib Bandung pada lanjutan Super League 2026/2027 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026) malam.
Korban berinisial ARK, yang masih berusia 16 tahun, ditemukan mengalami luka bacok di Jalan Raya Jakarta–Bogor ketika dalam perjalanan pulang seusai menyaksikan pertandingan.
Korban sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya tidak tertolong akibat luka parah yang dideritanya.
Menanggapi kejadian tersebut, Erick mengaku telah menghubungi langsung Kapolres setempat untuk meminta kepolisian mengusut tuntas motif penyerangan terhadap korban.
"Saya tadi telepon Pak Kapolres langsung, Pak Arfan (Zulkan Sipayung), saya bilang, 'Pak, tolong tindak lanjuti pasti seperti apa. Apakah ini kriminal murni atau ketidaksukaan atas suporter?'," kata Erick kepada awak media.
Erick menyerahkan proses penyelidikan kepada kepolisian untuk memastikan latar belakang kejadian tersebut.
Ia menegaskan, aksi kekerasan yang terjadi di luar stadion tetap harus ditangani melalui proses hukum.
"Nanti kita lihat hasil keputusan pihak Polri. Jadi kalau di luar tempat pertandingan itu sudah hukum, apalagi kalau sampai ada korban jiwa," jelasnya.
Kepolisian telah mengamankan lima orang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
Erick menilai perlu ada pembedaan antara penanganan tindak kriminal di luar stadion dan pelanggaran yang terjadi di dalam area pertandingan.
Menurut Erick, apabila kekerasan terjadi di dalam lingkungan pertandingan, klub dan suporter juga harus bertanggung jawab.
Ia bahkan mendorong penerapan sanksi pengurangan poin dalam jumlah besar jika insiden serius kembali terjadi.
“Kalau masih terjadi di dalam lapangan, itu pasti tanggung jawab klub dan suporter, dan akhirnya bisa dikurangi poin. Kalau masih terjadi hal seperti Kanjuruhan, mohon, maaf sudah lah pengurangan poin sebanyak-banyaknya saja biar ada efek jera,” ujar Erick.