Dijelaskan: Mengapa Michael Carrick dan Matheus Cunha terlibat adu mulut sengit setelah Manchester United bangkit dari ketertinggalan melawan Roma

Dijelaskan: Mengapa Michael Carrick dan Matheus Cunha terlibat adu mulut sengit setelah Manchester United bangkit dari ketertinggalan melawan Roma

Michael Carrick tampak terlibat perdebatan sengit dengan Matheus Cunha setelah Manchester United melakukan comeback menakjubkan melawan Roma di Liga Champions pada Selasa malam. Meski penyerang asal Brasil itu berperan penting dalam kemenangan besar di Old Trafford, pelatih Manchester United tersebu

Michael Carrick tampak terlibat perdebatan sengit dengan Matheus Cunha setelah Manchester United melakukan comeback menakjubkan melawan Roma di Liga Champions pada Selasa malam. Meski penyerang asal Brasil itu berperan penting dalam kemenangan besar di Old Trafford, pelatih Manchester United tersebut terlihat mengarahkan sosok penentu kemenangan itu ke lorong pemain segera setelah peluit akhir berbunyi.

United mengawali pertandingan pada Selasa dengan buruk. Mereka tertinggal dua gol dalam 17 menit pertama setelah Matias Soule mencetak gol dan Donyell Malen menuntaskan penalti. Bruno Fernandes memulai kebangkitan pada babak kedua lewat titik putih sebelum Cunha mengambil alih, mencetak dua gol dari jarak dekat untuk memastikan kemenangan dramatis 3-2 yang mengakhiri rentetan sembilan pertandingan tanpa kemenangan.

Namun, kegembiraan tanpa batas pemain asal Brasil itu harus dibayar mahal. Cunha menerima kartu kuning karena melepas kaus dan melompat ke arah penonton saat merayakan gol keduanya. Tekel terlambatnya terhadap Leonardo Balerdi kemudian membuatnya mendapat kartu kuning kedua dan diusir dari lapangan.

Ketika peluit akhir berbunyi, para pemain United bergegas merayakan kemenangan penting itu. Namun, suasana gembira tersebut terusik oleh apa yang tampak seperti perdebatan sengit antara Carrick dan Cunha. Sang manajer terlihat dengan tegas menyuruh pencetak gol kemenangan itu masuk ke lorong stadion. Meski terlihat tegang, Carrick bertindak cepat semata-mata untuk melindungi penyerangnya dari hukuman lebih lanjut, karena peraturan sepakbola secara tegas melarang pemain yang diusir kembali ke lapangan setelah pertandingan.

Meski Cunha diusir menjelang akhir laga, Carrick menolak mengkritik keras pemain andalannya itu. Dalam konferensi pers seusai pertandingan, pelatih United tersebut menyoroti kontribusi penting sang penyerang dalam meredakan tekanan yang kian besar di Old Trafford.

"Saya kecewa dengan cara pertandingan itu berakhir, tetapi sekali lagi, hal itu menunjukkan betapa besar kepeduliannya dan kesediaannya untuk berbuat sesuatu," jelas Carrick. "Ketika dia berada dalam pola pikir dan suasana hati seperti itu, itulah alasan kami menginginkannya di sini."

Cunha membahas akhir pertandingan yang kacau itu saat berbicara kepadaCBS Sports Golazo. Dengan nada bercanda, ia mengaitkan selebrasinya yang berlebihan dengan dirinya yang "terlalu Brasil" dan menunjukkan semangat.

"Hari yang sungguh luar biasa. Tentu saja, selain kartu merah itu," katanya. "Namun, ya, segala hal yang bisa Anda berikan untuk klub ini, dan selalu bermimpi menjadi bagian dari sesuatu yang luar biasa. Lalu datang ke sini dan bangkit pada masa yang sangat sulit dalam musim ini."

Menerima perannya sebagai pemain yang bisa membuat perbedaan, ia menambahkan: "Hari ini adalah hari yang penuh berkah bagi saya. Saya selalu berkata dalam hati, jika saya harus menjadi orang yang memikul tanggung jawab pada saat-saat sulit, saya akan siap."

Kartu merah itu membuat Cunha harus absen pada pertandingan Liga Champions United berikutnya melawan Sporting pada 25 November di Portugal. Namun, skorsingnya hanya berlaku di kompetisi Eropa.

Pemain asal Brasil itu tetap bisa tampil di kompetisi domestik dan akan menjadi sosok penting saat tim asuhan Carrick menjamu Aston Villa di Liga Primer pada Minggu. Dengan momentum yang akhirnya berpihak kepada mereka, Manchester United perlu meraih hasil positif lagi sebelum jeda internasional selama dua pekan mendatang.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.