Harry Kane mencetak sejarah pada Senin malam dengan menjadi pemain Inggris pertama dalam 25 tahun yang meraih Ballon d'Or. Namun, pencapaian itu mendapat kritik tajam dari Samir Nasri. Meski menjalani musim debut yang memecahkan rekor di Jerman, mantan gelandang Manchester City itu menilai sang striker tidak memiliki kemampuan menentukan hasil pertandingan yang diperlukan untuk meraih penghargaan individu tertinggi dalam sepakbola.
Kane meraih penghargaan bergengsi itu dalam sebuah seremoni di London, mengungguli penyerang Real Madrid Kylian Mbappe dan pemain muda Barcelona Lamine Yamal. Kemenangan itu menandai pertama kalinya pemain Inggris meraih bola emas dalam 25 tahun.
Pemain berusia 33 tahun itu meraih penghargaan tersebut setelah menjalani musim yang luar biasa secara individu. Ia mencatatkan 73 gol dan delapan assist dalam 65 penampilan bersama klub dan tim nasional. Di Bayern Munich, torehan 61 golnya dalam 51 pertandingan mencetak rekor baru klub untuk satu musim, sekaligus membantu Bayern meraih dua gelar domestik.
Meski mencatatkan angka-angka yang mencengangkan itu, Kane mengalami kekecewaan di panggung terbesar. Bayern tersingkir di semi-final Liga Champions oleh Paris Saint-Germain, sementara Inggris mengalami nasib yang persis sama saat menghadapi Argentina di Piala Dunia.
Mantan pemain tim nasional Prancis itu mengaku tak percaya dengan hasil akhir pemungutan suara. Berbicara diCanal+, Nasri berpendapat bahwa torehan gol Kane yang fenomenal menutupi kelemahan mendasar ketika tekanan mencapai puncaknya.
“Harry Kane, Ballon d'Or... Baiklah, statistik menjadi pembeda,” kata Nasri. “Dia pemain fantastis dengan begitu banyak kualitas. Namun, dia tidak pernah menjadi pemain yang membawa timnya mencapai sesuatu atau membuat timnya menang dalam pertandingan yang sangat besar. Sering kali ada sedikit kelemahan. Namun, dia pemain yang luar biasa.”
Ketika ditanya lebih lanjut apakah hasil seremoni itu membuatnya antusias, Nasri menjawab terus terang: “Tidak, itu masih terlalu halus!”
Namun, legenda Arsenal Thierry Henry menyampaikan pandangan berbeda saat tampil sebagai pembawa acara dalam seremoni di London itu. “Saya akan selalu mendukung sesama orang Prancis, tetapi saya harus mengatakan sesuatu tentang Harry Kane,” kata Henry kepadaDAZN. “Saya telah menyaksikannya sejak awal. Dia harus melalui perjuangan yang sangat berat untuk mencapai apa yang telah diraihnya. Dia layak menang, selamat.”
Singgungan Henry tentang perjalanan sulit Kane menyoroti karier yang dibangun dengan kegigihan. Tidak seperti banyak pemain elite masa kini, kapten Inggris itu tidak dianggap semua orang akan menjadi pemain hebat pada tahun-tahun awalnya di London utara.
Berbicara kepadaDAZNsetelah menerima penghargaan tersebut, Kane mengenang perjuangannya. “Tidak banyak orang yang menyangka, dan mungkin saya sendiri pun tidak menyangka bisa mencapai sejauh ini,” akunya. “Saya harus melewati banyak pasang surut, terutama di awal karier. Saya tidak pernah menjadi sosok yang diperkirakan orang akan menjadi superstar seperti beberapa pemain sekarang.
“Saya harus menunggu kesempatan dan bekerja keras. Sering kali saya harus melawan pikiran saya sendiri dan berhasil melewatinya. Saya harus menunjukkan keyakinan pada diri sendiri dan tekad. Saya pikir itu membuat saya tetap membumi, bahkan setelah berhasil mencapai level tertinggi, untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik.”
Setelah meraih penghargaan individu tertinggi, Kane kini akan berfokus untuk membungkam para pengkritik seperti Nasri. Tujuan utamanya tetap meraih trofi bergengsi di Eropa dan bersama tim nasional. Setelah tersingkir secara menyakitkan di semi-final Liga Champions dan Piala Dunia musim lalu, sang penyerang menghadapi tekanan besar untuk mengubah statistik pemecahan rekornya menjadi penampilan menentukan di panggung terbesar.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.