Cristiano Ronaldo vs Juventus: Bianconeri bawa sengketa gaji £8 juta yang belum dibayar ke Mahkamah Agung

Cristiano Ronaldo vs Juventus: Bianconeri bawa sengketa gaji £8 juta yang belum dibayar ke Mahkamah Agung

Sengketa hukum berkepanjangan antara Juventus dan Cristiano Ronaldo kembali memasuki babak dramatis setelah raksasa Italia itu menolak menerima kekalahan. Meski sejumlah putusan telah memenangkan megabintang asal Portugal tersebut, klub mengonfirmasi akan membawa perkara ini ke tingkat tertinggi per

Sengketa hukum berkepanjangan antara Juventus dan Cristiano Ronaldo kembali memasuki babak dramatis setelah raksasa Italia itu menolak menerima kekalahan. Meski sejumlah putusan telah memenangkan megabintang asal Portugal tersebut, klub mengonfirmasi akan membawa perkara ini ke tingkat tertinggi peradilan Italia.

Inti penyelidikan ini adalah sebuah dokumen yang dikenal secara informal sebagai “Dokumen Ronaldo”, yang terungkap dalam penyelidikan Prisma terhadap praktik keuangan klub. Jaksa menuduh Juventus telah mencapai kesepakatan pribadi dengan para pemain untuk menangguhkan pembayaran gaji, yang menurut laporan tidak dicatat secara akurat dalam laporan keuangan resmi klub.

Situasi tersebut menjadi skandal besar bagi Juventus dan turut menyebabkan seluruh anggota dewan direksi klub akhirnya mengundurkan diri, termasuk mantan presiden Andrea Agnelli. Rekaman hasil penyadapan dalam penyelidikan itu semakin memperumit keadaan bagi Juventus. Dalam salah satu percakapan yang direkam, kepala urusan hukum klub, Cesare Gabasio, mengatakan kepada direktur olahraga saat itu, Federico Cherubini, bahwa perjanjian tertulis tersebut “secara teori seharusnya tidak ada”. Pernyataan itu mengisyaratkan betapa sensitifnya pengaturan keuangan antara klub dan pemain bintangnya.

Meski dokumen yang ditemukan pihak berwenang itu tidak memuat tanda tangan Ronaldo, kekuatan hukum perjanjian tersebut terus diakui di pengadilan. Sang penyerang berargumen bahwa uang itu telah dijanjikan kepadanya terlepas dari transfernya, sementara klub menyatakan bahwa kepindahannya ke Premier League membuatnya melepaskan hak atas sejumlah tuntutan keuangan.

Setelah bukti fisik ditemukan di kantor seorang pengacara pada Maret 2022, Ronaldo memulai proses hukum resmi terhadap mantan klubnya pada September 2023. Mengingat rumitnya dokumen-dokumen terkait, kedua pihak sepakat menempuh arbitrase untuk menyelesaikan sengketa. Pada April 2024, panel arbitrase mengeluarkan putusan yang membagi tanggung jawab, dengan menyatakan Juventus wajib membayar sekitar separuh dari tuntutan semula, yakni €9,8 juta ditambah bunga, bukan seluruh €19,5 juta yang diminta tim hukum sang pemain.

Panel tersebut menyatakan bahwa meski tidak ada bukti Juventus berniat menipu sang pemain, utang itu tetap sah berdasarkan ketentuan perjanjian penangguhan pembayaran. Namun, putusan itu juga menunjukkan bahwa Ronaldo tidak secara tegas menuntut pembayaran tepat saat ia berangkat ke Inggris. Juventus langsung menggugat putusan arbitrase tersebut ke Pengadilan Ketenagakerjaan di Turin. Pada Januari, hakim Gian Luca Robaldo menolak gugatan klub dan menegaskan kembali bahwa pembayaran kepada kapten Al-Nassr itu harus dilakukan.

Juventus belum menyerah dan kini mengonfirmasi dalam laporan keuangan terbaru untuk periode 2025-26 bahwa mereka mengajukan upaya hukum terakhir. Menurut laporanLa Gazzetta dello Sport, klub menyatakan: “Putusan tersebut terbatas pada pemeriksaan ada atau tidaknya cacat formal dalam putusan arbitrase yang disebutkan dalam dokumen gugatan, dan bukan merupakan putusan atas pokok perkara. Karena itu, putusan tersebut tidak mengubah kesimpulan yang dicapai melalui arbitrase.” Pernyataan ini menunjukkan keyakinan klub bahwa pengadilan sebelumnya hanya meninjau kesalahan prosedural, bukan fakta-fakta pokok perkara.

Meski sengketa hukum ini terus menjadi sorotan, Juventus berupaya meyakinkan para pemegang saham dan suporter bahwa potensi pembayaran tersebut tidak akan mengganggu kondisi keuangan klub saat ini. Pimpinan klub telah memperhitungkan biaya sengketa Ronaldo dalam periode-periode keuangan sebelumnya, sehingga hasil sidang Mahkamah Agung tidak akan menimbulkan defisit mendadak.

Pernyataan itu berlanjut dengan memerinci tahapan upaya hukum saat ini: “Bagaimanapun, dampak ekonomi dan keuangan dari putusan arbitrase tersebut sudah tercermin dalam pembukuan perusahaan sejak tahun keuangan 2023/2024. Karena itu, tidak diperkirakan ada dampak negatif terhadap anggaran saat ini maupun anggaran mendatang. Terhadap putusan tersebut, Juventus mengajukan permohonan kasasi yang secara resmi disampaikan pada 27 Maret 2026, dan kini menunggu penetapan jadwal sidang.” Langkah prosedural ini merupakan kesempatan terakhir bagi klub raksasa Italia tersebut.

Bagi Ronaldo, perkara ini tetap menyangkut prinsip dan penggantian dana dalam jumlah besar saat ia mendekati akhir kariernya yang memecahkan berbagai rekor di Arab Saudi. Bagi Juventus, perkara ini menjadi bayang-bayang era Agnelli yang sangat ingin ditinggalkan oleh manajemen baru. Dengan tanggal sidang yang belum ditetapkan, kedua pihak masih berada dalam kebuntuan yang telah berlangsung selama empat tahun dan melewati berbagai tingkat peradilan. Putusan akhir Mahkamah Agung kelak akan menutup secara definitif salah satu periode yang paling banyak diwarnai sengketa hukum dalam sejarah klub.