Kiper Belgia itu mengungkap rahasia-rahasia lucu dari ruang ganti Real Madrid
Thibaut Courtois, penjaga gawang Real Madrid, mengeluarkan pernyataan menarik yang mengungkap bagaimana para pemain Los Blancos menyikapi rumor dan teori kontroversial yang membayangi para bintang mereka. Ia juga turut terlibat dalam polemik seputar kelayakan Kylian Mbappe meraih Ballon d'Or.
Dalam sebuah wawancara dengan jaringan "DAZN Belgia", Courtois menerima pertanyaan mengenai teori yang beredar soal adanya seseorang yang menyerupai Vinicius Junior sebagai pengganti pemain sesungguhnya, dan ia menjawab sambil tertawa dengan tegas: "Tentu saja, dia adalah Vinicius yang asli."
Urusan ini tidak berhenti pada sang bintang Brasil, karena penjaga gawang Belgia itu juga mengungkap reaksi para pemain Real Madrid terhadap julukan "diktator" untuk Mbappe, sebuah ungkapan yang menimbulkan polemik pada periode lalu, seraya menegaskan bahwa hal itu berubah menjadi bahan ejekan dan candaan di dalam tim.
Courtois mengatakan sebagaimana dikutip surat kabar Spanyol "Marca": "Mbappe diktator? Kami menertawakannya, dan terkadang kami menyanyikannya dalam bentuk lagu di dalam ruang ganti," mengisyaratkan bahwa para pemain menyikapi julukan-julukan tersebut dengan santai, jauh dari suasana polemik di luar.
Terlepas dari candaan, Courtois membela peluang rekan senegaranya asal Prancis itu dalam persaingan merebut Ballon d'Or, dengan menilai bahwa Mbappe adalah yang terbaik pada level individu, meski ia mengakui bahwa ketiadaan gelar kolektif bisa memengaruhi peluangnya, terutama dengan musim istimewa yang ditampilkan Lamine Yamal bersama Barcelona dan timnas Spanyol.
Penjaga gawang Real Madrid itu menjelaskan: "Saya rasa pada level individu tidak ada pemain yang lebih baik dari Kylian, tetapi sayangnya, kami tidak memenangkan apa pun pada level kolektif."
Courtois menyinggung perbandingan antara kedua bintang tersebut pada ajang Piala Dunia, seraya menuturkan bahwa Yamal, menurut pandangannya, tidak menampilkan level yang sama seperti yang ia tunjukkan pada kesempatan lain, tetapi ia diuntungkan oleh pencapaian kolektif, setelah menjuarai Piala Dunia, di samping kemenangannya di Liga Spanyol bersama Barcelona, dan menampilkan tahun yang bagus.
Ia mengatakan dalam konteks ini: "Bagi saya, Lamine Yamal menampilkan Piala Dunia yang sedikit di bawah ekspektasi, tetapi ia menjadi juara dunia, memenangkan Liga bersama Barcelona, dan menampilkan tahun yang bagus."
Sebaliknya, Mbappe mengakhiri turnamen di peringkat keempat bersama timnas Prancis, tetapi ia dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia, yang menurut pandangan Courtois memperkuat argumen keunggulan individu sang bintang Prancis, sekaligus kembali membuka pintu perdebatan mengenai tolok ukur yang paling penting dalam perebutan Ballon d'Or: performa pribadi atau gelar kolektif.