KOMPAS.com- Chelsea menghadapi tantangan besar untuk bangkit dari posisi ke-10 Premier League dan bersaing memperebutkan gelar juara musim 2026-2027.
Situasi tersebut mengingatkan pada perjalanan mereka satu dekade lalu ketika berhasil mengubah posisi serupa menjadi gelar juara.
Chelseafinis di peringkat ke-10 pada musim 2015-2016. Namun, hanya setahun kemudian, mereka keluar sebagai juaraPremier Leaguedi bawah asuhanAntonio Conte.
Kini, skenario serupa berpotensi kembali terjadi. Chelsea finis di posisi ke-10 musim lalu dan akan memulai era baru bersamaXabi Alonso.
Chelsea memiliki alasan untuk optimistis. Alonso sebelumnya sukses membawa Bayer Leverkusen menjuarai Bundesliga 2023-2024 tanpa terkalahkan dengan menggunakan formasi tiga bek.
Formasi tersebut juga pernah menjadi kunci kebangkitan Chelsea bersama Conte. Setelah mengalami kekalahan 0-3 dari Arsenal pada pekan keenam musim 2016-2017, Conte mengubah sistem menjadi tiga bek.
Perubahan itu langsung memberikan dampak besar. Chelsea kemudian memenangkan 13 pertandingan Premier League secara beruntun dan akhirnya mengamankan gelar dengan 93 poin.
Namun, mengulang pencapaian tersebut bukan perkara mudah. Chelsea harus meningkatkan perolehan poin secara signifikan dari musim lalu.
Meski finis di posisi ke-10, statistik menunjukkan performa Chelsea sebenarnya tidak seburuk posisi mereka di klasemen.
Berdasarkan expected goals (xG), Chelsea merupakan tim terkuat keempat di Premier League musim lalu. Posisi tersebut turun menjadi kelima jika penalti tidak diperhitungkan.
Masalah utama Chelsea berada pada penyelesaian akhir. Mereka hanya mencetak 58 gol dari expected goals sebesar 66,3, atau delapan gol lebih sedikit dari yang diperkirakan berdasarkan jumlah dan kualitas peluang.
Hanya Crystal Palace dan Wolves yang memiliki tingkat penyelesaian peluang lebih buruk dibandingkan Chelsea musim lalu.
Sebagian besar masalah tersebut terjadi dalam lima pertandingan pada Maret dan April ketika Chelsea masih ditangani Liam Rosenior.
Chelsea memang perlu meningkatkan performa secara signifikan untuk menjadi juara. Namun, persaingan perebutan gelar Premier League dalam beberapa musim terakhir menunjukkan bahwa standar poin untuk menjadi juara tidak selalu setinggi era persaingan Pep Guardiola dan Jurgen Klopp.
Pada musim 2018-2019, Liverpool bahkan mengoleksi 97 poin tetapi tetap gagal menjadi juara karena Manchester City meraih 98 poin.
Karena itu, Chelsea tidak harus mengulangi pencapaian luar biasa 93 poin seperti ketika menjadi juara pada 2016-2017.
Dengan peningkatan performa dan kemampuan Alonso memaksimalkan potensi Cole Palmer serta pemain lainnya, Chelsea berpeluang kembali bersaing di papan atas.