Cesc Fabregas dengan tegas menepis pembicaraan soal Scudetto Como meski timnya bangkit secara dramatis melawan Torino

Cesc Fabregas dengan tegas menepis pembicaraan soal Scudetto Como meski timnya bangkit secara dramatis melawan Torino

Cesc Fabregas enggan larut dalam euforia setelah Como meraih kemenangan dramatis di pengujung laga melawan Torino. Ia menegaskan timnya masih harus membuktikan banyak hal di Serie A. Meski para pemainnya tampil penuh semangat dan berhasil membalikkan ketertinggalan, pria asal Spanyol itu segera mene

Cesc Fabregas enggan larut dalam euforia setelah Como meraih kemenangan dramatis di pengujung laga melawan Torino. Ia menegaskan timnya masih harus membuktikan banyak hal di Serie A. Meski para pemainnya tampil penuh semangat dan berhasil membalikkan ketertinggalan, pria asal Spanyol itu segera menepis anggapan bahwa Como bisa secara mengejutkan bersaing memperebutkan gelar juara.

Como melanjutkan kebangkitan luar biasa mereka dengan kemenangan 3-1 atas Torino di kandang lawan setelah lebih dulu tertinggal. Kemenangan dramatis itu memicu pembicaraan tentang peluang mereka bersaing memperebutkan gelar, mengingat perolehan poin mereka saat ini dilaporkan berada pada laju yang cukup untuk menjuarai Scudetto. Namun, ketika ditanya apakah timnya berpeluang bersaing memperebutkan Scudetto atau tiket ke kompetisi Eropa, Fabregas menepisnya. Ia memilih berfokus pada tantangan mendesak dalam menangani skuad yang terbatas dan dibayangi daftar cedera yang terus bertambah, alih-alih melihat klasemen.

"Anda tahu jawabannya. Kami harus mencari solusi terbaik. Kami menjalani banyak pertandingan, ada enam pemain yang cedera dan jumlah pemain kami sedikit. Belum pernah ada susunan sebelas pemain yang sama, jadi sulit mendapatkan stabilitas. Kami membutuhkan semua pemain. Saya tidak tahu berapa poin yang kami miliki. Ini masih Oktober dan saya tidak melihat klasemen. Saya tidak tertarik pada tiket Liga Champions ataupun Scudetto, tetapi saya tertarik melihat bagaimana tim ini berkembang dan meningkatkan levelnya," kata Fabregas kepadaSky Sport Italia.

Fabregas memuji para pemainnya setelah mereka meraih kemenangan, tetapi tetap berpijak pada kenyataan soal perkembangan klub secara keseluruhan. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu memandang hasil tersebut sebagai langkah maju yang penting bagi skuad yang masih beradaptasi dengan kerasnya persaingan di kasta tertinggi sepakbola Italia. Ia menyoroti perubahan mentalitas dibandingkan musim sebelumnya dan mengisyaratkan bahwa pertandingan seperti ini mungkin menghasilkan hasil berbeda pada masa lalu.

"Tim hebat? Kami masih harus membuktikan bahwa kami adalah tim hebat. Ini ujian kedewasaan. Tahun lalu, kami mungkin tidak akan memenangi pertandingan seperti ini. Ini pertandingan keempat dalam sepuluh hari, dan tidak mudah menemukan cara untuk menang. Kami menunjukkan ketangguhan, kualitas, dan keinginan untuk meraih kemenangan. Tidak semua pertandingan bisa Anda menangi dengan skor 2-0 atau 3-0. Kami kebobolan lalu bangkit lagi. Menang di Italia tidak pernah mudah, dan atas apa yang kami lakukan dalam pertandingan ini, saya sangat mengapresiasi tim saya," jelas Fabregas.

Kemenangan di Turin menjadi tonggak lain dalam perkembangan Como setelah kekalahan sulit dari Frosinone pada awal musim. Fabregas meyakini kemunduran tersebut penting bagi pembelajaran skuadnya sehingga mereka lebih mampu menghadapi beragam tantangan taktis. Menghadapi Torino yang menerapkan blok pertahanan menengah-rendah, Como tetap sabar dan agresif hingga akhirnya berhasil mencetak gol, meski sempat membentur tiang atau mistar gawang dalam pertandingan itu.

Fabregas menekankan pentingnya kekuatan mental, khususnya dengan menyoroti kemampuan pemain untuk bangkit setelah melakukan kesalahan dalam pertandingan. "Kami harus senang, tetapi tidak boleh lengah. Ketangguhan, mentalitas, dan kualitas itu penting. Melihat Ramon melakukan kesalahan besar lalu mencetak gol sangat penting, karena cara bermain seperti ini memberi Anda sesuatu, tetapi juga mengambil sedikit dari Anda. Ketika terjadi kesalahan, Anda harus bangkit lagi dengan karakter. Anda tidak bisa bermain dengan rasa takut," katanya.

Setelah peluit akhir berbunyi, Fabregas terlihat berkumpul melingkar bersama para pemainnya di lapangan, menegaskan ikatan emosional dalam skuad. Pelatih kepala itu ingin menjaga persatuan saat klub menghadapi situasi yang belum pernah mereka alami, setelah baru-baru ini berhadapan dengan tim kuat seperti Manchester United. Pria asal Spanyol itu menegaskan bahwa semangat kolektif tersebut penting untuk menghadapi kerasnya sepakbola modern di kasta tertinggi.

"Saya hanya mengatakan kepada mereka bahwa kami adalah keluarga. Kami harus mencari setiap solusi untuk apa yang kami lakukan dalam babak baru kehidupan Como ini. Kami tidak boleh lupa bahwa ini pertama kalinya dalam sejarah klub kami berada dalam situasi seperti ini. Saya memberi mereka tambahan satu hari libur, tetapi kami harus siap menghadapi Venezia pada Minggu karena mereka tampil lebih baik bersama Davide Nicola. Kami harus mempertahankannya," pungkas sang pelatih.

Mengawali karir di dunia jurnalistik pada tahun 2000 dengan liputan utama di bidang hukum dan kriminal, politik, serta sosial masyarakat. Namun di tengah pekerjaan itu, selalu berusaha meliput kegiatan olahraga, terutama pertandingan sepakbola, cabang olahraga yang saya gemari dan mainkan sejak kanak-kanak.

Pada 2002 bergabung ke Harian Terbit dengan fokus liputan olahraga umum, sampai akhirnya hijrah ke Goal pada 2009 yang membuat kecintaan kepada sepakbola tersalurkan. Saya lebih difokuskan meliput kegiatan sepakbola nasional, dan menangani koresponden.

Hadirnya sejumlah pemain keturunan yang memperkuat timnas Indonesia dalam dua tahun terakhir membuat saya menaruh perhatian kepada mereka, terutama yang berkarir di luar negeri, memberikan penilaian terhadap kinerja pemain di klub masing-masing.

Bidang yang ditekuni:

Menganalisa dan meliput pertandingan Super League

Memberikan penilaian terhadap pemain abroad

Editorial dan artikel sepakbola nasional dan internaional

Momen tak terlupakan:

Meyaksikan pertandingan terakhir enam besar Persirakatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta ketika PSMS Medan melawan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya menghadapi PSM Makassar pada 1986 saat masih kanak-kanak. Di samping merasa senang dengan atmosfer yang tercipta di stadion, ada perasaan takut juga, karena banyak benda yang dilempar dari atas.