BREEL EMBOLOadalah kisah sedih yang belum berlalu ketika perhelatan Piala Dunia 2026 telah ditutup dengan kekalahan Argentina atas Spanyol di final.
Pemain telah bermain di Liga Swiss, Jerman dan belakangan Liga Perancis (Rennes) itu bermimpi mengantar negaranya ke semifinal. Namun cerita berbelok pada menit ke-72.
Pada menit itu, penyerang Swiss itu dikeluarkan wasit dalam babak perempat final yang mempertemukan Argentina versus Swiss akibat menerima kartu kuning kedua.
Permainan pun berubah. Dari pegang kendali usai menyamakan skor 1-1, Argentina mengambil alih.
Laga harus berlanjut diextra time, dan Swiss menyerah 1-3 karena bermain dengan 10 orang.
Petaka itu berawal dari intervensi wasit VAR, Guillermo Pacheco Larios. Ia mengacu aturan "mistaken identity" (kesalahan identitas).
Kira-kira begini bunyi prinsip VAR itu (tercantum di website IFAB, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional).
Video assistant referee (VAR) adalah perangkat pertandingan yang memiliki akses independen terhadap rekaman pertandingan, dan hanya dapat membantu wasit jika terjadi ‘kesalahan yang jelas dan nyata’ (clear and obvious error) atau ‘insiden serius yang terlewatkan’ (serious missed incident) terkait sejumlah situasi.
Baca juga:Pagar yang Memisahkan Pemerintah dan Publik
Pertama, gol atau tidak gol. Kedua, penalti atau tidak penalti. Ketiga, kartu merah (termasuk kartu kuning kedua yang jelas-jelas keliru).
Dan keempat, kesalahan identitas (ketika wasit memberikan kartu kuning atau mengeluarkan pemain yang salah).
Dalam kasus Embolo, wasit Joao Pedro Silva Pinheiro yang memimpin duel Argentina versus Swiss, dinilai salah memberikan kartu kuning kepada gelandang tim Tango, Leandro Paredes.
Alhasil, ia harus memperhatikan VAR. Sang wasit lalu mencabut kartu kuning pada Paredes.
Sebaliknya ia melihat aksi Embolo. Penyerang itu dinilai sengaja menjatuhkan diri (diving) sebelum kontak dengan Paredes.
Pelatih Swiss, Murat Yakin, mengatakan ia tidak mengetahui perubahan aturan tersebut (mistaken identity yang diperluas diPiala Dunia 2026).
“Menurut saya, aturan ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola,” katanya.
“Fakta bahwa mereka (FIFA) memperkenalkan aturan seperti itu sama sekali tidak perlu," gerutu Yakin seperti dikutip dariThe Guardian,12 Juli 2026.
Di akhir Juli, IFAB buka mulut atas insiden itu. Intinya, menurut IFAB, meskipun peninjauan video (VAR) dapat digunakan mengoreksi kesalahan identitas pemain yang mendapatkan sanksi, tapi hal itu bukan untuk meninjau kembali pelanggaran tersebut.
Aturanmistaken identitytidak berlaku untuk membatalkan hukuman, terutama dalam situasi simulasi (diving).
Dalam kasus Embolo aturan ini justru digunakan untuk menilai atau mengubah status awal pelanggaran.
Baca juga:Perlawanan Febrie Adriansyah dan Ujian Berat Institusi Kejaksaan
Itulah 'penyelewengan' terhadap aturanmistaken identity. Pengakuan IFAB tersebut mengguncang, terlebih buat Emolo, Yakin, Swiss dan pecinta bola negeri arloji itu.Mistaken identitytelah menyingkirkan Swiss.
Dan bak cerita telenova (fiksi), kok ya terjadi pada saat Argentina bermain?