Buntut Serangan ke Pemain Persib U-18,  PSSI Ancam Cabut Izin Tandang dan Potong Poin

Buntut Serangan ke Pemain Persib U-18, PSSI Ancam Cabut Izin Tandang dan Potong Poin

Suara.com -Ketua UmumPSSI,Erick Thohir, memberikan peringatan keras kepada klub dan pengelola kompetisi menyusul dua insiden kekerasan yang melibatkan suporter sepak bola pada akhir pekan lalu.

Suara.com -Ketua UmumPSSI,Erick Thohir, memberikan peringatan keras kepada klub dan pengelola kompetisi menyusul dua insiden kekerasan yang melibatkan suporter sepak bola pada akhir pekan lalu.

PSSI bahkan membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada klub yang gagal menjamin keselamatan suporter.

Dua insiden tersebut terjadi dalam rentang waktu berdekatan. Pertama, rombonganPersib BandungU-18 diserang sekelompok orang yang diduga merupakan oknum suporterPersija Jakartadi Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026) malam.

Akibat kejadian itu, bus rombongan Persib mengalami kerusakan.

Sejumlah koper milik pemain dan ofisial dilaporkan dijarah, sementara dua personel sempat terpisah dari rombongan dan mengalami kekerasan fisik.

Insiden berikutnya menimpa rombongan suporter Persija Jakarta atau TheJakmaniapada Senin (12/10/2026) dini hari.

Bus yang membawa mereka pulang setelah mendukung Persija menghadapi PSIM Yogyakarta di Bantul dilempari di ruas Tol Palikanci KM 199–200, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah orang dilaporkan terluka, termasuk seorang suporter perempuan.

Erick Thohir menegaskan bahwa keselamatan suporter merupakan tanggung jawab yang harus diperhatikan klub dan pengelola liga.

Menurutnya, kesempatan bagi suporter tim tamu untuk kembali menghadiri pertandingan tandang harus diiringi komitmen menjaga keamanan selama perjalanan maupun pertandingan.

"PSSI meminta liga dan klub bertanggung jawab atas penyelenggaraan pertandingan, termasuk terkait keselamatan suporter," kata Erick Thohir kepada awak media.

"Ini penting karena PSSI bersama seluruh keluarga sepak bola sudah memiliki komitmen kepada FIFA untuk memastikan setiap suporter dapat kembali ke rumah dengan selamat," jelasnya.

Erick juga mengecam aksi kekerasan yang dilakukan oknum suporter.

Ia menilai penyerangan terhadap bus, perusakan fasilitas, pencurian barang, hingga tindakan kekerasan fisik sudah mengarah pada tindak kriminal dan tidak dapat dibenarkan sebagai bagian dari rivalitas sepak bola.

"Itulah kesepakatannya. Kami memang sudah mulai membuka kembali kesempatan bagi suporter tandang atau away, tetapi dengan catatan bahwa klub dan liga harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Sejumlah pertandingan sudah mulai memperbolehkan suporter tuan rumah dan tandang hadir bersamaan, selama klub-klub yang terlibat memiliki kesepakatan," lanjutnya.

"Namun, ketika terjadi penyerangan, kita harus melihat persoalannya secara berbeda. Kalau ada oknum suporter yang menyerang bus, mengambil barang, membakar, menghancurkan, bahkan menggunakan benda tumpul untuk melakukan kekerasan, menurut saya itu sudah mengarah pada tindakan kriminal."