Bruno Fernandes 'TAK PEDULI' lagi? Kapten Manchester United beri isyarat kuat di media sosial setelah dicadangkan Michael Carrick dalam kekalahan dari Bournemouth

Bruno Fernandes 'TAK PEDULI' lagi? Kapten Manchester United beri isyarat kuat di media sosial setelah dicadangkan Michael Carrick dalam kekalahan dari Bournemouth

Kapten Manchester United, Bruno Fernandes, memicu kontroversi setelah mengisyaratkan bahwa ia mungkin tak lagi peduli dengan keterpurukan klub saat ini di bawah Michael Carrick. Gelandang kreatif asal Portugal itu secara mengejutkan tidak masuk susunan pemain inti saat Manchester United menelan keka

Kapten Manchester United, Bruno Fernandes, memicu kontroversi setelah mengisyaratkan bahwa ia mungkin tak lagi peduli dengan keterpurukan klub saat ini di bawah Michael Carrick. Gelandang kreatif asal Portugal itu secara mengejutkan tidak masuk susunan pemain inti saat Manchester United menelan kekalahan memalukan dari Bournemouth, yang kemudian disusul respons penuh teka-teki di media sosial.

Fernandes secara mengejutkan tidak masuk dalam susunan pemain inti saat United menelan kekalahan kandang 0-3 yang mengecewakan dari Bournemouth. Sang kapten dicadangkan menyusul kritik terbukanya baru-baru ini terhadap taktik tim saat kalah dari Como di Liga Champions.

Meski tertinggal 0-2 saat jeda, Carrick memilih untuk tidak memasukkan gelandang kreatif asal Portugal itu demi menyelamatkan hasil pertandingan. Sebaliknya, Matheus Cunha, Lisandro Martinez, Joshua Zirkzee, dan Shea Lacey diturunkan sebagai pemain pengganti pada babak kedua.

Fernandes beberapa kali melakukan pemanasan di tepi lapangan pada babak kedua, tetapi akhirnya tidak dimainkan. Bournemouth kemudian mencetak gol ketiga, menambah penderitaan United sekaligus memastikan kemenangan tandang yang bersejarah.

Seusai kekalahan telak itu, aktivitas Fernandes di media sosial mengundang perhatian. Sang gelandang menyukai sebuah video pendek di Instagram dengan keterangan: "Jangan pernah mendesak orang yang setia sampai ia tak lagi peduli."

Video animasi itu menyiratkan pesan yang kuat. Di dalamnya, sosok batu raksasa melindungi sebuah kota kecil dari bongkahan batu besar. Setelah diserang oleh kota yang berusaha dilindunginya, sosok itu melepaskan batu tersebut sehingga permukiman itu hancur dan tersapu ke laut.

Interaksi tersebut sangat menyiratkan bahwa Fernandes merasa upayanya selama ini untuk menopang United yang tengah kesulitan justru dibalas dengan kritik yang tidak semestinya, sehingga ia akhirnya memilih untuk melepaskan beban itu.

Carrick menegaskan bahwa keputusannya mencadangkan sang kapten murni didasari pertimbangan taktis, seraya membantah dugaan adanya perselisihan yang lebih dalam di balik layar.

Menjelaskan pemilihan pemainnya, pelatih United itu mengatakan: "Dia bugar dan siap bermain, tetapi kami memutuskan untuk memilih tim yang kami turunkan hari ini. Sayangnya, kami semua tidak berhasil mendapatkan hasil yang diinginkan. Kami ingin lebih banyak menyerang dan menciptakan peluang. Ada beberapa hal yang bisa kami lakukan, tetapi itu belum cukup dan hal tersebut cukup jelas."

Situasi ini terancam semakin memanas saat United terpuruk di posisi ke-17 Liga Primer. Meski para pendukung di Old Trafford meneriakkan nama Carrick saat laga berakhir, para pemain disambut cemoohan keras ketika berjalan menuju lorong stadion.

United harus segera bangkit menjelang lawatan berat ke markas Chelsea di Liga Primer. Setelah tersingkir dari Carabao Cup, Manchester United memiliki waktu luang yang jarang mereka dapatkan pada tengah pekan untuk mengatasi krisis yang kian memburuk.

Belum dapat dipastikan apakah Carrick masih akan mendampingi tim dari tepi lapangan di Stamford Bridge. Para petinggi United dilaporkan sedang mempertimbangkan pemecatannya. Pembahasan internal mengenai kemungkinan penggantinya pun sudah berlangsung, sementara kiprah klub di kompetisi domestik berada di ujung tanduk.

Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.

Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.

Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:

XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)

Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.