Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menjatuhkan denda kepada Barcelona atas laporan Atletico Madrid terkait pendekatan ilegal terhadap Julian Alvarez.
Liputan6.com, Jakarta -Barcelonadijatuhi denda sebesar €602 oleh Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) pada Selasa, 27 Oktober 2026. Sanksi ini merupakan hasil penyelidikan atas upaya klub Katalan tersebut mendekati strikerAtletico Madrid, Julián Alvarez, tanpa mengikuti prosedur yang berlaku. Keputusan ini menggarisbawahi komitmen RFEF untuk menegakkan aturan transfer, meskipun dengan sanksi yang tergolong ringan.
Alvarez masih terikat kontrak dengan Atletico Madrid hingga tahun 2030. Spekulasi mengenai minat Barcelona untuk merekrut Álvarez muncul sepanjang musim panas 2026 untuk menjadi pengganti Robert Lewandowski. Álvarez sendiri sempat menyatakan keinginannya untuk meninggalkan Atletico Madrid selama Piala Dunia 2026, dengan Barcelona sebagai tujuan pilihannya.
Pernyataan publik semacam ini seringkali menjadi pemicu awal bagi klub peminat untuk melakukan pendekatan, namun harus tetap dalam koridor aturan yang berlaku.
Kasus ini bermula dari pengaduan yang diajukan Atletico Madrid kepada RFEF pada bulan Juni, tepatnya 30 Juni. Mereka menuduh Barcelona mendekati pemain mereka tanpa mematuhi etika dan prosedur yang disyaratkan.
Menurut peraturan kompetisi RFEF, khususnya Pasal 133, klub yang ingin merekrut pemain yang masih terikat kontrak wajib memberitahukan klub pemain tersebut secara tertulis sebelum memulai negosiasi dengan pemain. Pelanggaran terhadap pasal ini dianggap sebagai tindakan yang merusak integritas sistem transfer dan dapat memicu sanksi disipliner.
Pengaduan Atletico Madrid tidak hanya ditujukan kepada RFEF, tetapi juga sempat diajukan kepada FIFA. Namun, badan sepak bola dunia tersebut menyatakan tidak memiliki yurisdiksi atas masalah ini, sehingga tidak dapat memulai proses hukum. Hal ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus transfer domestik, federasi nasional memiliki otoritas utama. Menindaklanjuti laporan tersebut, RFEF secara resmi membuka proses disipliner luar biasa pada akhir Juli, tepatnya 30 Juli, dan menunjuk seorang penyelidik untuk memeriksa pengaduan tersebut. Proses ini melibatkan pengumpulan bukti, kesaksian dari pihak terkait, dan analisis terhadap komunikasi yang terjadi antara Barcelona dan perwakilan Álvarez.
Barcelona sendiri menyatakan bahwa mereka telah mengikuti semua prosedur yang tepat dalam pendekatan mereka, bersikeras bahwa komunikasi yang terjadi adalah wajar dan tidak melanggar aturan. Namun, penyelidikan RFEF menemukan adanya celah dalam klaim tersebut, yang mengarah pada penetapan sanksi.
Ikuti berita bola terbaru diSport Liputan6
Xavi Espart Cedera, Hansi Flick Siapkan Solusi dari La Masia
Lamine Yamal Menang Kopa Trophy 2026, Malah Sebut Pau Cubarsi Lebih Pantas
Minggu 'Gila' Liga! di Balik Panas Laga El Clasico, Come Back Sensasional Injury Time Inter Milan!
Denda sebesar €602 dikenakan berdasarkan Pasal 133 peraturan disipliner RFEF. Pasal ini secara spesifik mengacu pada “kegagalan mematuhi instruksi, perjanjian, atau kewajiban peraturan.” Pelanggaran ini diklasifikasikan sebagai pelanggaran ringan oleh RFEF, sehingga Barcelona terhindar dari sanksi olahraga yang lebih berat seperti larangan transfer atau pengurangan poin dalam sengketa transfer ini. Klasifikasi sebagai pelanggaran ringan ini seringkali memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola, mengingat potensi dampak yang bisa ditimbulkan oleh pendekatan ilegal terhadap pemain kunci. Jumlah denda €602 ini dianggap sebagai hukuman yang “kecil” atau “simbolis” oleh banyak pihak. Angka tersebut merupakan jumlah maksimum yang diatur dalam Pasal 133 untuk pelanggaran ringan. Denda semacam ini, meskipun secara finansial tidak signifikan bagi klub sebesar Barcelona, berfungsi sebagai peringatan dan penegasan bahwa aturan harus dihormati. Ini juga menjadi preseden bagi klub lain untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pendekatan terhadap pemain yang masih terikat kontrak.