Harry Kane dengan tegas menanggapi spekulasi yang kian menguat soal kemungkinan kembali ke Liga Primer Inggris, sementara ia terus tampil dominan di Jerman bersama Bayern Munich. Setelah baru saja meraih Ballon d'Or 2026, kapten Inggris itu menjelaskan secara gamblang prioritasnya untuk sisa karier gemilangnya.
Kane mengesampingkan peluang untuk segera kembali ke Liga Primer. Ia memprioritaskan kesuksesan di Liga Champions bersama Bayern Munich dan gelar internasional bersama Inggris. Pemain berusia 33 tahun itu meninggalkan Tottenham Hotspur tiga tahun lalu dengan koleksi 213 gol di Liga Primer, terpaut 47 gol dari rekor Alan Shearer yang mencapai 260 gol.
Setelah menerima Ballon d'Or di London pada Senin, Kane menegaskan bahwa ia tidak berfokus mengejar rekor Shearer. Ia tetap bertekad tampil di level tertinggi hingga menjelang usia 40 tahun, sembari memburu gelar bergengsi bersama klub di luar Inggris dan tim nasional.
Ketika ditanya apakah ia berniat kembali ke Inggris untuk melampaui Shearer, Kane menjawab: "Tidak untuk saat ini. Saya sangat menikmati hidup di Munich.
"Bayern adalah klub yang luar biasa. Kami punya tim yang hebat dan pelatih yang hebat. Jadi, saat ini fokus saya ada di sini, dan saya sangat bahagia. Meraih penghargaan seperti ini menunjukkan alasan saya pindah ke sini sejak awal."
Kapten Inggris itu menegaskan bahwa memenangi trofi internasional bergengsi tetap menjadi tujuan utamanya, di samping meraih kejayaan di Eropa. Ia menambahkan: "Selalu ada ambisi dan impian untuk meraih pencapaian baru. Masih banyak yang ingin saya capai dalam sepakbola, yakni Liga Champions di level klub dan memenangi trofi bergengsi bersama Inggris. Itu jelas prioritas utama saya.
"Ada begitu banyak hal hebat yang ingin saya capai. Sepanjang karier dan hidup saya, saya belajar bahwa kita tidak bisa sepenuhnya menentukan apa yang akan terjadi. Kita harus mengikuti alurnya, melihat ke mana itu membawa kita, memercayai keputusan yang kita ambil, seperti keputusan saya untuk pindah, lalu berusaha sekuat tenaga. Saat ini saya bersama Munich, dan kita lihat ke mana itu akan membawa saya."
Kepindahan Kane ke Bavaria membuahkan hasil besar: dua gelar Bundesliga, satu Piala Jerman, serta 156 gol dalam 159 pertandingan. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya berbicara dengan pelatih Bayern, Vincent Kompany, pada Senin pagi, sementara sang pelatih saat ini dirawat di rumah sakit akibat infeksi virus setelah ambruk saat latihan.
"Dia menelepon saya pagi ini, tepat pukul 09.00," kata Kane. "Untungnya saya baru saja bangun, jadi saya bisa mengangkat teleponnya. Dia hanya ingin menyampaikan harapan terbaik dan mendoakan saya sukses.
"Saya bertanya bagaimana kondisinya. Dia bilang dia merasa baik dan sedang dalam pemulihan. Saya tahu dia tipe orang yang ingin segera kembali bersama tim. Dia ingin berada di lapangan latihan dan di bangku cadangan bersama kami. Namun, penting baginya untuk beristirahat. Kondisi kesehatannya belakangan ini cukup berat, dan mudah-mudahan kami serta staf bisa mengisi kekosongan selama dia tidak ada.
"Kembali ke Munich dan bertemu dengannya, seluruh staf, serta semua rekan setim saya akan sangat berarti bagi saya. Saya sudah mengatakan bahwa penghargaan ini milik mereka sama besarnya dengan milik saya, jadi merayakannya sebentar bersama mereka akan terasa istimewa."
Setelah merayakan penghargaan itu bersama keluarga dan teman-temannya di London, Kane menaiki penerbangan pagi kembali ke Munich untuk bergabung dengan rekan-rekan setimnya menjelang pertandingan DFB-Pokal pada Rabu.
Selagi Kompany beristirahat, staf dan skuad Bayern akan menjalani laga piala pada tengah pekan sebelum segera mengalihkan perhatian ke Bundesliga. Duel besar Der Klassiker melawan rival domestik Borussia Dortmund menanti pada Sabtu, saat Kane dan rekan-rekan setimnya akan berupaya kembali menunjukkan kekuatan mereka.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.