Duel taktik yang berlangsung hati-hati di Johan Cruijff ArenA akhirnya ditentukan oleh ketajaman para pemain cadangan Ajax. Michel mengungguli Maurizio Sarri dalam adu strategi pada fase akhir pertandingan untuk mengamankan kemenangan penting 2-0.
Pertemuan Ajax dan Atalanta menyajikan pertarungan dua filosofi yang kontras. Ajax asuhan Michel berupaya mendominasi lewat penguasaan wilayah permainan dan menciptakan banyak peluang tembakan, sementara Atalanta asuhan Maurizio Sarri mengandalkan blok pertahanan rapat untuk meredam lawan dan melancarkan serangan balik. Selama 86 menit, pertandingan tetap tanpa gol. Ajax gagal mengubah 61 persen penguasaan bola menjadi gol, sedangkan disiplin Atalanta membuat lawan tak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang tiga perempat awal pertandingan.
Pada akhirnya, pertandingan ini tidak ditentukan oleh skema awal, melainkan oleh kedalaman skuad dan karakter taktis para pemain yang masuk pada babak kedua. Pertahanan Atalanta tetap kokoh hampir sepanjang malam, tetapi tekanan dari total 21 tembakan akhirnya membuahkan hasil. Masuknya Tolu Arokodare memberi Ajax tumpuan fisik di lini depan yang tidak mereka miliki pada babak pertama. Kehadirannya akhirnya memungkinkan Ajax menembus lini belakang yang sebelumnya terlihat sangat nyaman di bawah arahan Sarri.
Ajax menerapkan formasi tradisional 4-3-3 yang sangat bergantung pada kemampuan teknis Sofyan Amrabat dalam menjaga bola di dasar lini tengah. Pola membangun serangan mereka sudah dikenal: bek sayap Youri Baas dan Owen Wijndal memperlebar permainan untuk membuka ruang di tengah bagi Julian Brandt dan Davy Klaassen. Tujuannya jelas, yakni memanfaatkan lebar lapangan untuk memaksa pemain sayap Atalanta turun bertahan sehingga Ajax unggul jumlah pemain, 3 lawan 2, di lini tengah. Pemicu tekanan mereka pun agresif. Setiap kali bola mengarah ke bek tengah Atalanta, Roko Obric atau Thomas Kristensen, tiga penyerang Ajax langsung menekan tinggi untuk memaksa lawan mengirim bola panjang.
Ajax mendominasi penguasaan bola, tetapi lama kesulitan memaksimalkan peluang di sepertiga akhir. Meski mencatatkan total 21 tembakan, banyak di antaranya merupakan percobaan spekulatif dari jarak jauh atau diblok di tengah padatnya area penalti tim Italia itu. Pergerakan Oscar Gloukh dan Marcos Leonardo dirancang untuk menarik para bek keluar dari posisinya, tetapi tim asuhan Sarri tidak terpancing. Garis pertahanan Ajax bermain tinggi sehingga Marc-Andre ter Stegen kerap berperan sebagai kiper penyapu. Itu diperlukan untuk terus menekan Atalanta, yang berusaha memanfaatkan ruang di belakang para bek sayap. Rencana tersebut menuntut kesabaran besar: menguras tenaga tim tamu secara perlahan sebelum melancarkan tekanan penentu pada menit-menit akhir.
Maurizio Sarri memilih formasi 4-2-3-1 yang berubah menjadi 4-4-2 dengan garis pertahanan rendah saat Atalanta tidak menguasai bola. Prioritas taktisnya adalah kekompakan pertahanan. Ederson menjadi pelindung utama lini belakang yang terus berada di bawah tekanan. Rencana mereka adalah memadati area tengah dan memaksa Ajax mengirim umpan silang. Strategi itu berjalan sempurna selama 80 menit, sementara Atalanta mencatatkan sembilan sepak pojok dan tujuh tembakan yang diblok. Dalam menyerang, mereka mengandalkan kemampuan Gianluca Scamacca menahan bola dan sentuhan kreatif Charles De Ketelaere. Namun, ketiadaan satu pun tembakan tepat sasaran menunjukkan betapa besarnya fokus mereka pada fase bertahan.
Ketika merebut kembali bola, Atalanta berusaha segera mengalirkannya ke depan. Raoul Bellanova dan Davide Zappacosta bertugas menjadi opsi umpan di kedua sisi lapangan, tetapi posisi tinggi para pemain Ajax kerap membuat mereka tertahan di belakang. Trio lini tengah Atalanta bekerja tanpa henti membayangi para pengatur serangan Ajax dan berhasil meredam Julian Brandt hampir sepanjang pertandingan. Namun, beban fisik akibat terus bertahan dengan garis rendah melawan tim yang dominan menguasai bola akhirnya memicu kelengahan dalam lima menit terakhir. Disiplin taktis yang sebelumnya menjadi ciri permainan mereka pun runtuh di bawah tekanan perubahan yang dilakukan Ajax pada menit-menit akhir.
Pertarungan penentu berlangsung di ruang antara bek sayap dan bek tengah Atalanta. Selama satu jam pertama, Sarri memenangi pertarungan itu dengan menjaga jarak antarlini tetap sangat rapat sehingga Gloukh dan Leonardo tidak memiliki ruang untuk berbalik badan. Ajax terpaksa mengalirkan bola dalam pola menyerupai huruf U di sekitar tepi area penalti tanpa pernah menembus pusat pertahanan. Kebuntuan taktis itu menjadi bukti apiknya organisasi permainan Sarri, yang berhasil meredam kreativitas lini tengah Ajax hampir sepanjang laga.
Namun, keseimbangan berubah ketika Ajax beralih dari rangkaian umpan rapat ke ancaman yang lebih langsung dan mengandalkan kekuatan fisik. Masuknya Tolu Arokodare mengubah fokus serangan Ajax. Para bek Atalanta, yang sebelumnya menghadapi pemain-pemain yang berlari ke ruang di belakang mereka, kini harus berebut bola atas dan terlibat dalam duel fisik. Perubahan karakter serangan itu akhirnya meruntuhkan ketahanan tim Italia tersebut. Keputusan Michel meninggalkan pendekatan 'nomor sembilan palsu' demi penyerang target tradisional memanfaatkan kelelahan fisik lini belakang Atalanta, yang telah menghabiskan 85 menit berlari dalam blok pertahanan rendah.
Michel bergerak cepat melakukan perubahan karena melihat perlunya karakter taktis yang berbeda. Pada menit ke-62, Viktor Tsigankov dan Aziz Ouazane masuk menggantikan Klaassen dan Gloukh yang lebih statis, menghadirkan kecepatan baru di kedua sisi lapangan. Tak lama kemudian, perubahan krusial terjadi pada menit ke-66 ketika Tolu Arokodare menggantikan Marcos Leonardo. Ajax pun berubah dari tim yang berusaha menembus Atalanta lewat umpan menjadi tim yang mampu mengungguli mereka secara fisik. Penyesuaian itu menempatkan Brandt lebih dalam, dengan ruang lebih luas untuk mengatur permainan karena Atalanta mundur semakin jauh guna mengantisipasi ancaman Arokodare dalam duel udara.
Sarri merespons dengan memasukkan Lazar Samardzic, lalu Nikola Krstovic, untuk mencoba merebut kembali wilayah permainan. Namun, perubahan itu gagal membalikkan momentum. Tekanan Ajax kian sulit dibendung. Pada menit ke-87, pertaruhan taktis tersebut membuahkan hasil ketika umpan Youri Baas dimanfaatkan Arokodare untuk memecah kebuntuan. Setelah gol pertama tercipta, Atalanta terpaksa meninggalkan pola bertahan mereka. Struktur permainan mereka pun berantakan dan Aziz Ouazane mampu menggandakan keunggulan pada masa tambahan waktu. Rangkaian pergantian pemain Ajax meningkatkan tekanan secara bertahap hingga pertahanan Atalanta akhirnya jebol.
Pada akhirnya, keunggulan Michel dalam mengelola pemain cadangan dan fleksibilitas taktisnya membawa Ajax meraih kemenangan. Rancangan pertahanan Sarri nyaris tanpa cela selama 85 menit, tetapi ia tidak memiliki rencana lain setelah Ajax menghadirkan ancaman yang lebih langsung dan mengandalkan fisik. Peralihan Ajax dari upaya membangun serangan dengan sabar ke serangan vertikal berintensitas tinggi dalam sepuluh menit terakhir membuat Atalanta tidak siap. Dengan memperkaya variasi serangan pada akhir laga, Ajax mengubah dominasi statistik menjadi kemenangan meyakinkan 2-0. Hasil itu membuktikan bahwa di level tertinggi sepakbola Eropa, kemampuan mengubah tujuan serangan sama pentingnya dengan cara melakukannya.
Seorang jurnalis olahraga dengan pengalaman hampir satu dekade, memulai perjalanan profesionalnya di Tabloid BOLA yang legendaris di Indonesia dari tahun 2017 hingga edisi cetak terakhirnya pada Desember 2018. Setelah itu, ia bergabung dengan GOAL, berkontribusi sebagai penulis lepas untuk FIFA, serta bekerja di departemen media Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF). Bersamaan dengan karier jurnalistiknya, ia juga aktif sebagai komentatorplay-by-playsiaran langsung sepak bola Indonesia sejak tahun 2017. Meraih gelar sarjana Sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Bandung.