Pelatih Manchester United Michael Carrick memuji pengaruh sensasi remaja Shea Lacey setelah kebangkitan luar biasa pada babak kedua melawan Roma. Manchester United tampak bakal kembali menelan kekalahan yang merugikan sebelum perubahan taktik dan aksi pemain dari bangku cadangan mengubah atmosfer di Old Trafford.
Manchester United terancam menelan kekalahan keempat berturut-turut setelah awal laga yang buruk membuat mereka tertinggal dua gol dalam 17 menit pertama. Matias Soule membuka skor, sebelum Donyell Malen mengeksekusi penalti untuk membungkam Old Trafford.
Bruno Fernandes memicu kebangkitan pada babak kedua lewat eksekusi ulang penalti, membuka jalan untuk mengakhiri rentetan sembilan pertandingan tanpa kemenangan yang menyedihkan. Matheus Cunha kemudian memanfaatkan kesalahan Leonardo Balerdi untuk menyamakan kedudukan, sebelum melepaskan tembakan keras ke tiang dekat untuk mencetak gol kemenangan.
Gol penentu itu tercipta berkat Lacey yang berusia 19 tahun. Masuk menggantikan Amad Diallo pada menit ke-75, pemain jebolan akademi itu menyumbangkan assist krusial dalam penampilannya yang baru ke-10 bersama tim senior.
Carrick mengungkapkan kebanggaan besarnya terhadap pemain mudanya itu, dengan menyoroti kreativitas serta kerja kerasnya dalam bertahan yang mengejutkan untuk membantu mengamankan kemenangan.
"Tanpa ingin berlebihan, saya benar-benar senang untuk Shea," kata Carrick. "Kami sangat menyayanginya. Dia anak muda yang hebat, sangat ingin tampil baik, dan punya kemampuan luar biasa. Jadi, ketika dia bergerak ke tengah dan menemukan celah untuk mengirim umpan, itu tidak mengejutkan. Ada kilatan di matanya, dia bermain dengan sedikit kenakalan, kalau boleh dibilang, jadi dia selalu mencari kesempatan untuk melakukannya.
"Namun, saya sama senangnya melihat dia bertahan sebagai bek kanan ketika kami membutuhkannya. Sebagai pesepakbola yang komplet, Anda harus mampu melakukan itu. Jadi, saya juga senang melihat kontribusinya dalam bertahan dan melihat para pemain muda memanfaatkan kesempatan.
"Saya rasa kehadirannya di lapangan memberi semua orang dorongan semangat. Itu luar biasa untuk dilihat, dan dia memaksimalkan kesempatan yang didapatnya malam ini."
Meski Lacey memberi sentuhan akhir yang menentukan, penyesuaian saat jeda babak pertama benar-benar mengubah momentum. Carrick memindahkan Cunha ke posisi tengah dengan menukar posisinya dengan Bryan Mbeumo. Pemain asal Brasil itu tampil gemilang dan kemudian memicu perayaan meriah di tribune setelah mencetak gol keduanya.
"Matheus mampu melakukan hal-hal seperti itu, dia punya momen-momen seperti itu," jelas Carrick. "Kami menempatkannya di tengah, menukar posisinya dengan Bryan saat jeda untuk mencoba membawanya ke tengah lapangan, memberi kami bentuk permainan yang sedikit berbeda. Kami menempatkannya di tengah lapangan, dan dia menemukan dirinya berada di posisi-posisi yang bagus."
Penampilan Cunha berakhir lebih cepat setelah tekel ceroboh membuatnya menerima kartu kuning kedua pada masa tambahan waktu, sehingga United harus bermain dengan 10 orang. "Saya kecewa dengan cara penampilannya berakhir, tetapi itu sekali lagi menunjukkan betapa dia peduli dan bersedia berjuang. Ketika dia berada dalam kerangka pikir seperti itu, dalam suasana hati seperti itu, dan bermain seperti itu, itulah yang kami inginkan darinya," pungkas Carrick.
Kemenangan dramatis ini secara signifikan meredakan tekanan yang terus meningkat terhadap Carrick dan menghentikan keterpurukan performa United. Mereka berharap hasil yang diraih dengan susah payah ini menjadi titik balik untuk menghidupkan kembali perjuangan mereka musim ini.
Namun, mereka harus menjalani laga Eropa berikutnya tanpa pencetak gol kemenangan mereka. Cunha akan menjalani skorsing akibat kartu merahnya, sehingga Carrick harus mencari pilihan lain di lini serang untuk menjaga momentum yang baru didapat.
Kecintaannya pada sepakbola berakar dari Chelsea, tepatnya ketika ia terpesona oleh sosok Gianfranco Zola—bukan hanya karena magis di kakinya, tapi juga karena nama sang legenda yang menurutnya begitu renyah di telinga. Beberapa tahun kemudian, Piala Dunia 2002 memperkenalkannya pada Oliver Kahn, penjaga gawang yang menjadi jatuh cinta kedua Zaki pada sepakbola, sekalipun Jerman pulang dengan tangan kosong kala itu.
Momen paling membekas bagi Zaki terjadi jauh lebih dekat di mata: berdiri di tribun selatan Maguwoharjo,menjadi saksi ketika PSS Sleman mengangkat trofi Divisi Utama 2013. Euforia kemenangan itu berubah getir karena dualisme membuat Si Elang Jawa gagal promosi.
Bidang keahlian Zaki di GOAL Indonesia di antaranya:
XI Sepanjang Masa Zaki (4-2-3-1)
Oliver Kahn; Cafu, John Terry, Franz Beckenbauer, Paolo Maldini; Xavi Hernandez, Claude Makelele; Lionel Messi, Eric Cantona, Eden Hazard; Marco van Basten.